Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Hukum Allah SWT

Posted by anurachman pada Mei 19, 2009

Tak dapat dielakkan lagi, bahwa bagi manusia hanyalah untuk mendengar dan taat kepada hukum Allah swt. Tidak ada hak,tidak ada kemampuan, dan tidak ada kekuatan bagi manusia untuk membangkang atau menolak dari perintah dan hukum Allah swt.

Abu Hurairah ra. berkata: Ketika turun ayat : Lillahi mafis samawati wama fil  ardh, wa in tubdu ma fi anfusikum aw tukhfuhu yuhaasibkum bihillah. (Bagi Allah swt kekuasaan di langit dan dibumi, apabila kamu keluarkan isi hatimu atau tetap kamu sembunyikan akan diperhitunkan oleh Allah swt). Terasa berat yang demikian itu pada sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw, sehingga mereka datang kepada Rasuslullah Muhammad saw dan jongkok sambil berkata: Ya Rasulullah, kami dapat menerima kewajiban-kewajiban yang dapat  kami kerjakan, yaitu sholat, jihad, puasa dan sedekah. Dan kini telah diturunkan ayat ini, kami merasa tidak dapat melaksanakan dan tidak kuat untuk menanggungnya. Rasulullah Muhammad saw kemudian bersabda: Apakah kamu akan berkata sebagaimana ahlil-kitab yang sebelumnya: Kami mendengar dan kami melanggar. Kamu harus berkata: Sami’na wa atho’na (Kami mendengar dan kami taati), Ghufronaka Rabbana Wa ilaikal Mashir (Ampunkan kami Ya Rabb kami dan kepada-Mu-lah kami akan kembali). Dan ketika ajaran itu telah dibaca oleh para sahabat, sehingga ringan lidah mereka membacanya, Allah swt menurunkan ayat lanjutannya: Aamanar Rasulu Bima Unzila Ilaihi Min Rabbihi Wal Mu’minuna, Kullun Aamana Billahi Wamalaikatihi Wa Kutubihi Wa Rusulihi, Laa Nufarriqu Baina Ahadin Min Rusulihi, Wa Qolu Sami’na Wa Atho’na Ghufronakak Robbana Wa Ilaikal Mashir. (Sungguh telah percaya Rasulullah saw dengan apa yang diturunkan kepadanya dari Rabb-Nya (Al Quran),  juga Rabb kaum mu’minin masing-masing telah percaya Allah saw dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan Nabi-Nabi utusan-Nya, tidak membeda-bedakan antara salah saeorangpun dari ututsan-utusan itu, dan berkata mereka; Kami mendengar dan taat, ampunkanlah Ya Rabb kami dan kepada-Mu kami akan kembali). Dan ketika telah dilaksanakan yang demikian itu, Allah swt memasukkan hukum ayat yang di atas itu dengan ayat yang terakhir yang berbunyi: Laa Yukallifullahu Nafsan Illa Wus’aha, Laha Ma Kasabat Wa’alaiha Maktasabat (Allah tidak memaksakan (membebankan) pada seseorang kecuali seseuai dengan kemampuannya, baginya keuntungan dari usahanya, sebagaimana di atas tanggungannya resiko apa yang telah dikerjakannya). Rabbana Laa Tu’akhidzna Innasiina Aw Akhtho’na. Dijawab; “…Ya”. Rabbana Wa Laa Tahmil ‘Alaina Ishran Kama Hamaltahu’alalladzina Min Qablina. Dijawab; “…Ya”. Rabbana Wala Tuhammilna Malatho Qotalanabihi. Dijawab: “…Ya”. Wa’fu ‘anna, Waghfirlana, Warhamna, Anta Maulana Fanshurna ‘alal Qawmil Kafirin. Dijawab; “…Ya” .

(Ya Rabb kami, janganlah menuntut kami jika kami lupa atau keliru, jawabnya; “Ya”. Ya Rabb kami, janganlah menanggungkan kepada kami keberatan-keberatan sebagaimana Engkau telah tanggungkan pada orang-orang sebelum kami. Jawabnya: “Ya”. Ya Rabb kami, janganlah menanggungkan kepada kami yang di luar kemampuan kami. Jawabnya: “Ya”. Maafkanlah kami, ampunkanlah kami, dan kasihanilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum kafir. Jawabnya: “Ya”). (HR. Muslim, dalam kitab Riyadhus Shalihin I).

syahadat.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: