Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Bertengkar yang Baik

Posted by anurachman pada Mei 8, 2009

Dalam kehidupan rumah tangga, banyak cobaan yang sering menghadang. Cobaan tersebut kadangkala di luar perkiraan kita. Jika suami istri tidak dapat mengatasi cobaan tersebut, maka pertengkaran tidak akan terhindarkan. Namun, pertengkaran dalam sebuah keluarga itu termasuk sesuatu yang wajar, jika kita dapat menyikapinya dengan baik.

Hampir tidak ada keluarga yang tidak dibumbui dengan pertengkaran antara suami dan istri. Pertengkaran sudah menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam sebuah keluarga. Hal ini karena menyatukan dua sifat dalam satu tujuan tidaklah mudah, tentu akan muncul pertentangan-pertentangan kecil. Lantas, bagaimanakah kita menyikapi pertengkaran-pertengkaran yang muncul dalam keluarga?

Agar pertengkaran tidak membawa akibat yang buruk, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertengkaran yang ada dapat kita jadikan sebagai pembelajaran yang berharga dalam setiap langkah untuk membangun keluarga yang bahagia. Lantas pertengkaran seperti apakah yang dapat kita jadikan sebagai motivasi diri untuk hal yang lebih baik? Berikut sedikit ulasannya:

1.    Jangan Bertengkar Berjamaah

Sering kita melihat jika suami istri bertengkar, maka kedua-duanya akan melampiaskan kemarahannya secara bersamaan. Hal ini sebenarnya hanya akan memperkeruh suasana. Sebab, jika dua orang tersebut berbicara dengan keras (marah-marah) pada saat yang sama, maka tidak seorangpun dari mereka yang dapat menangkap dan memahami kata-kata dari pihak lain. Akibatnya, suasana justru semakin memanas, dan tidak ditemukan solusi untuk persoalan tersebut.

Alangkah baiknya jika suami sitri “saling membagi waktu” dalam bertengkar. Ada saatnya bagi suami untuk melampiaskan uneg-unegnya, dimana istri “harus” mau menjadi pendengar setia. Dan ada pula saat suami menjadi pendengar saat istri sedang melampiaskan kekesalannya. Dengan demikian, duduk persoalan sebenarnya akan dapat dengan mudah ditelusuri dan diselesaikan. Pertengkaran pun akan berakhir dengan ditemukannya solusi dari persoalan tersebut.

2.    Marahlah untuk Persoalan Saat Itu

Dalam keadaan marah, seseorang tidak akan mampu mengontrol apa yang diucapkannya. Hal ini karena emosi yang berbicara, bukan akal sehat. Karena ketidakmampuan dalam mengontrol ucapan tersebut, seringkali suami atau istri akan menyebut-nyebut kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pihak lain di masa yang telah lewat. Hal ini tentunya sangat tidak baik, karena masa tersebut telah berlalu, dan kesalahan yang sudah terjadi tidak dapat diperbaiki lagi. Yang muncul pada akhirnya adalah penyesalan.

Karena itu, meskipun dalam keadaan emosi, sebisa mungkin janganlah mengungkit-ungkit kesalahan yang telah lalu. Kita boleh marah, namun sebatas pada persoalan yang sedang dihadapi saja. Selain agar tidak menyakiti pihak lain, hal ini juga untuk mencegah penyesalan karena telah mengungkit-ungkit hal-hal yang telah lewat. Sebab pada dasarnya, pertengkaran adalah diskusi untuk mencari solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi, namun dalam tingkat emosi yang tinggi. Bukan untuk mengungkit-ungkit kesalahan dan permasalahan yang telah lalu.

3.    Jangan bawa-bawa Keluarga

Dalam pertengkaran, suami atau istri sering mengagungkan keluarganya dan memandang rendah keluarga pasangannya. Terlebih lagi bila keluarganya merupakan keluarga yang terpandang. Dengan mudahnya ia akan membandingkan keluarganya dengan keluarga pasangannya. JANGAN PERNAH melakukan hal ini!!

Jangan sekali-kali kita membawa-bawa keluarga dalam pertengkaran suami dan istri. Selain tidak ada gunanya, hal ini justru akan memicu munculnya permasalahan yang jauh lebih besar. Bahkan tidak mustahil, pertengkaran antara suami dan istri ini dapat berkembang menjadi pertengkaran antar dua keluarga. Sungguh amat sangat menyedihkan….

Selesaikanlah persoalan keluarga tanpa melibatkan pihak lain. Ingat…….. kita sudah hidup terpisah dari keluarga besar kita. Sudah menjadi konsekuensi kita untuk dapat menyelesaikan segala permasalahan tanpa melibatkan keluarga besar, apalagi sampai memicu perselisihan antara keluarga suami dengan keluarga istri….

4.    Jangan didepan Anak-anak

Anak-anak merupakan buah cinta kasih kita. Semua kasih sayang kita tercurah pada sang anak. Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu tugas utama kita dalam sebuah keluarga. Perlu diingat, bahwa anak-anak sering mengikuti apa-apa yang dicontohkan oleh kedua orang tuanya.

Karena itu, hindarilah pertengkaran jika ada anak di sekitar kita. Jangan biarkan anak-anak kita mengetahui, mendengar, atau melihat saat orang tuanya sedang “beradu urat syaraf”. Hal ini akan mempengaruhi psikologi si anak. Anak akan menjadi bingung menentukan siapa yang harus ia bela dan hormati. Dan lebih parah lagi, si anak akan meniru perilaku kita saat ia dewasa nanti.

5.    Jangan Lebih Dari Satu Waktu Sholat

Orang suka berlarut-larut saat marah. Meskipun hari telah berganti, namun seringkali kemarahan tidak juga reda. Jangan biasakan hal ini. Jika memang harus marah atau kesal pada suami atau istri, janganlah melebihi waktu sholat. Jika tidak, maka hal ini akan berimbas pada ibadah kita. Selain itu, imbas dengan hidup bertetangga pun akan ada.

6.    Saling Memaafkan

Sebesar apapun kemarahan ita terhadap pasangan kita, kita harus memiliki rasa memaafkan yang besar. Sifat saling memahami dan memaafkan mutlak diperlukan dalam hidup berumah tangga. Jangan sampai kemarahan kita membutakan dan menutupi perasaan sayang kita kepada pasangan kita. Jadikanlah pertengkaran sebagai salah satu pembelajaran dalam hidup berumah tangga.

Pertengkaran adalah “bumbu penyedap” dalam hidup berumah tangga. Hadapilah setiap masalah dengan bijak, sehingga kita mampu menciptakan keluarga yang bahagia, saling memahami dan menyayangi, serta saling menghormati. Jika suami istri dapat saling menghormati, maka anak-anak pun akan melakukan sikap yang sama. Ingatlah, keluarga bahagia tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak. Butuh kerja sama dari semua anggota keluarga untuk mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: