Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Puasa Asyura

Posted by anurachman pada Mei 7, 2009

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: يكفر السنة الماضية.

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)

Dari ketiga hadist tersebut, terdapat anjuran dari Rasulullah Muhammad saw untuk melaksanakan puasa Asyura. Lantas apakah puasa asyura itu? Puasa Asyura adalah puasa yang dilakukan pada hari Asyura, yaitu pada tanggal 10 Muharam. Namun, untuk menyelisihi dengan umat Yahudi, RAsulullah saw juga menganjurkan untuk melakukan puasa pada tanggal 9 Muharam (puasa Tasyu’a).

Lantas mengapa Rasulullah saw memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharam? Perhatikanlah hadist berikut:

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Tatkala Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa alaihis salam berpuasa pada hari ini. Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. (HR. Al Bukhari)

Dan dari Aisyah radhiallahu anha, ia mengisahkan,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR. Al Bukhari No 1897)

Pelaksanaan Puasa Asyura

Pada awalnya puasa Asyura dilakukan hanya pada hari asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Namun untuk membedakan umat muslim dengan umat Yahudi, maka Rasulullah bersabda:

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ

“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”

Karena itu, ulama membagi Puasa Asyura menjadi tiga keadaan:

1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.

2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama.

3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh).

Namun yang paling afdhol adalah dengan menggabungkan Puasa Tasu’a dengan Asyura.
Keutamaan Puasa Asyura

Banyak keutamaan yang terdapat dalam Puasa Asyura. Beberapa keutamaan Puasa Asyura diantaranya adalah:

•    Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan

Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, ia berkata,

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا اليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.

Al Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.

•    Menghapus dosa kecil setahun sebelumnya

Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah radhiallahu anhu,

وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ

“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.

Hadist tentang Puasa Asyura

Abu Hurairah r.a berkata:

“Seorang bertanya kepada Rasulullah saw. ‘Shalat manakah yang lebih utama setelah shala tfardlu? ‘Nabi saw, bersabda, ‘Shalat di tengah malam. ‘Mereka bertanya lagi, ‘Puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?’ Nabi saw. bersabda, ‘Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharram.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud)

Mu’awiyah bin Abu Sufyan berkata:

“Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda, ‘Hari ini adalah hari Asyura dan kami tidak diwajiban berpuasa padanya. Dan aku sekarang berpuasa maka siapa yang suka, berpuasalah, dan siapa yang tidak berbukalah.” (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Aisyah r.a berkata:

“Hari Asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy pada masa jahiliah. Rasul juga biasa memuasakannya, dan ketika datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka ketika difardhukan puasa Ramadhan, beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa , dan siapa yang tidak, ia berbukalah.” (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas r.a berkata:

“Nabi saw. datang ke Madinah dan beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura’. Lantas Nabi saw. bertanya, ‘Ada apa ini?’ Mereka menjawab, ‘hari ini merupakan hari terbaik, yaitu saat Allah membebaskan Nabi Musa a.s dan bani Israil dari kepungan musuh mereka, hingga hari itu dijadikan Nabi Musa a.s sebagai hari puasa.’ Lalu Nabi saw. bersabda, ‘Aku lebih berhak memuliakan hari ini dibandingkan kalian.’ Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh kaum muslimin agar ikut berpuasa.” (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Abu Musa asy-Asy’ari r.a berkata:

“Hari Asyura itu dibesarkan oleh orang-orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya. Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Berpuasalah kamu pada hari itu!'” (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas r.a berkata,

“Ketika Rasullullah saw. berpuasa hari Asyura dan memerintahkan orang agar memuasakannya, mereka berkata, ‘Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudidan Nasrani.’ Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika datang tahun depan insya Allah, kita berpuasa pada hari ke sembilan.’Ibnu Abbas berkata,’ Maka belum lagi datang tahun depan itu, Rasulullah saw. pun wafat.'” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: