Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Pendamping Kita Di Dunia

Posted by anurachman pada Mei 5, 2009

Ada sebuah kisah yang cukup menarik, dan sangat sesuai untuk jadi renungan kita.dalam kisah ini terdapat banyak hikmah yang dapat dipetik.

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri.diantara keempat istrinya tersebut, ia lebih mencintai istrinya yang keempat. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini.

Pedagang itu juga bangga pada istri ketiganya. Dia selalu berupaya agar orang-orang mengenal istri yang dibanggakannya itu.

Istri yang ke-dua cukup dihormatinya, karena ia sabar, dan selalu membantu dirinya kala ada masalah. Semua keputusan yang diambil terkait dengan usahanya tidak lepas dari masukan istri ke-dua tersebut.
Sedangkan pada istrinya yang pertama, pedagang ini terkesan acuh tak acuh. Padahal diantara istri-istrinya yang lain, istri pertama ini yang paling setia. Meskipun suaminya tak pernah menmperhatikannya, ia tetap sabar dan setia.

Suatu ketika, si pedagang menderita sakit yang amat parah. Ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati. “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.” Lalu ia meminta semua istrinya datang.

Pada istri ke-empat yang paling disayanginya ia berkata: “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku? Dengan tegas istrinya menjawab “Tentu saja tidak”. Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya. Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? Istrinya menjawab, Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati. Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku? Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu. Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara. “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”

Saudaraku, itulah perumpamaan kita di dunia ini. Dalam hidup kita, ada 4 “pendamping” yang bersama kita saat masih hidup. Namun diantara 4 “pendamping tersebut, hanya satu “pendamping” yang menyertai kita hingga hari kebangkitan kelak.

“Pendamping” pertama kita adalah tubuh kita. Dalam kisah di atas ia menjadi istri keempat, yang begitu dicintai dan diperhatikan. Pakain yang bagus-bagus, perhiasan indah selalu dikenakan oleh tubuh kita. Namun saat kita meninggal, semua itu akan kita tinggalkan pula. Tak satupun dari pakaian maupun perhiasan tersebut ikut dengan kita.

Istri ke-tiga dalam kisah diatas adalah “pendamping” kita yang berupa kekayaan dan kekuasaan. Semua itu akan meninggalkan kita dan beralih menjadi milik orang lain. Sedangkan istri ke-dua pada kisah tersebut adalah ‘pendamping’ kita yang ketiga. Bentuk nyata dari ‘pendamping’ ini adalah keluarga dan sanak saudara. Mereka hanya akan mengantarkan kita hingga liang lahat. Setelah itu mereka akan berpencar kemana saja.
Istri pertama pada cerita diatas adalah ‘pendamping’ sejati bagi kita. Dia adalah amal ibadah yang kita lakukan selama hidup. Hanya dia yang akan mendampingi kita di alam kubur, hingga hari kebangkitan tiba. Besar kecilnya ‘pendamping’ kita ini tergantung dari bagaimana kita hidup di dunia.

Karena itu saudaraku, janganlah melupakan ‘pendamping’ setia kita ini. Hanya dia yang akan mampu menolong kita pada saat menghadapi azab nantinya. Peliharalah ia dengan baik, sehingga ia bias menyelamatkan kita dari api neraka. Amien………….

sumber: syahadat.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: