Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Adab Makan Seorang Muslim

Posted by anurachman pada Mei 4, 2009

Makan merupakan salah atu kebutuhan dasar dari manusia. Untuk menunjang kelangsungan hidupnya, manusia memerlukan makan. Tanpa asupan makanan, manusia akan merasa lemah dan tidak berdaya. Jika ini berlangsung terus menerus, maka manusia akan mati kelaparan.

Namun jangan hanya karena takut kelaparan lantas kita makan tanpa kompromi. Cara makan yang rakus dan berlebihan bukanlah jawaban dari hal tersebut. Alih-alih sehat, kebanyakan makan justru berakibat tidak baik. Kebanyakan makan akan menyebabkan kita lamban, mengantuk, dan mudah terserang penyakit.

Lantas bagaimanakah tata cara makan yang baik? Banyak hadist yang menjelaskan tentang tata cara makan, yang dapat diikuti oleh kaum muslimin. Beberapa diantaranya kami rangkum dalam tulisan ini:

Membaca Basmallah

Dalam sebuah hadist Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmua, dan makanlah makanan di dekatmu

Semua pekerjaan akan lebih mulia jika kita mulai dengan bacaan basmallah dan mengakhirinya dengan hamdallah. Terlebih lagi saat kita akan makan. Menyebut nama Allah sebelum makan berfungsi untuk mencegah hadirnya setan untuk turut serta menikmati makanan yang ada.

Dalam sebuah hadist Muslim, Hudzaifah r.a. berkata: “Apabila kami makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami tidak memulainya sehingga Nabi memulai makan. Suatu hari kami makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang gadis kecil seakan-akan anak tersebut terdorong untuk meletakkan tangannya dalam makanan yang sudah disediakan. Dengan segera Nabi memegang tangan anak tersebut. Tidak lama sesudah itu datanglah seorang Arab Badui. Dia datang seakan-akan di dorong oleh sesuatu. Nabi lantas memegang tangannya. Sesudah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya syaitan turut menikmati makanan yang tidak disebut nama Allah padanya. Syaitan datang bersama anak gadis tersebut dengan maksud supaya bisa turut menikmati makanan yang ada karena gadis tersebut belum menyebut nama Allah sebelum makan. Oleh karena itu aku memegang tangan anak tersebut. Syaitan pun lantas datang bersama anak Badui tersebut supaya bisa turut menikmati makanan. Oleh karena itu, ku pegang tangan Arab Badui itu. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya sesungguhnya tangan syaitan itu berada di tanganku bersama tangan anak gadis tersebut.”

Jika kita lupa mengucapkan basmallah sebelum makan, dan baru teringat sesudah selesai, maka ucapkanlah kalimat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yang tersirat dalam hadist berikut:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu kalian hendak makan, maka hendaklah menyebut nama Allah. Jika dia lupa untuk menyebut nama Allah di awal makan, maka hendaklah mengucapkan bismillahi awalahu wa akhirahu.”

Dengan tangan sebelah kanan

Banyak hadist yang menjelaskan tentang hal ini. Diantara hadist-hadist tersebut adalah:

Dari Jabir bin Aabdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena syaitan itu juga makan dengan tangan kiri.”

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian hendak makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum maka hendaknya minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan juga minum dengan menggunakan tangan kirinya.”

Meskipun banyak hadist yang dengan gamblang menjelaskan tentang larangan memakai tangan kiri untuk makan dan minum, namun tidak sedikit kaum muslimin yang masih tetap menggunakan tangan kirinya untuk makan dan minum, meskipun tangan kanannya tidak ada masalah. Ingatlah akan sebuah hadist berikut ini:

Dari Salamah bin Akwa radhiyallahu ‘anhu beliau bercerita bahwa ada seorang yang makan dengan menggunakan tangan kiri di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melihat hal tersebut Nabi bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” “Aku tidak bisa makan dengan tangan kanan,” sahut orang tersebut. Nabi lantas bersabda, “Engkau memang tidak biasa menggunakan tangan kananmu.” Tidak ada yang menghalangi orang tersebut untuk menuruti perintah Nabi kecuali kesombongan. Oleh karena itu orang tersebut tidak bisa lagi mengangkat tangan kanannya ke mulutnya.”

Penggunaan tangan kiri untuk makan dan minum diperbolehkan jika memang tangan kanannya tidak dapat berfungsi karena suatu hal. Bukankah Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah:286, yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Mengambil makanan terdekat

Jika disediakan satu jenis makanan yang ditempatkan di beberapa tempat, maka ambillah makanan yang posisinya terdekat dengan kita. Namun jika ada beberapa jenis makanan yang diswdiakan, kita dapat memilihnya sesuai selera, tentu dengan tidak meninggalkan kesopanan yang ada.

Hal ini sesuai dengan dua hadist berikut:

Umar bin Abi Salamah meriwayatkan, “Suatu hari aku makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku mengambil daging yang berada di pinggir nampan, lantas Nabi bersabda, “Makanlah makanan yang berada di dekatmu.”

Anas bin Malik meriwayatkan, “Ada seorang penjahit yang mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikmati makanan yang ia buat. Aku ikut pergi menemani Nabi. Orang tersebut menyuguhkan roti yang terbuat dari gandum kasar dan kuah yang mengandung labu dan dendeng. Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengambil labu yang berada di pinggir nampan.”

Mulai dari pinggir piring

Saat kita makan, bukan hanya rasa kenyang yang kita inginkan. Kita juga mengharapkan keberkahan yang terdapat di dalam makanan yang kita santap. Dalam hal ini Rasulullah mengajarkan untuk memulai makanan dari pinggir piring, untuk kemudian ke tengah. Anjuran ini tersirat dalam hadist shahih berikut:

Diriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda, “Jika kalian makan, maka janganlah makan dari bagian tengah piring, akan tetapi hendaknya makan dari pinggir piring. Karena keberkahan makanan itu turun dibagian tengah makanan.”

Selain untuk mendapatkan berkah dari makanan, hal ini juga dimaksudkan sebagai salah satu sikap sopan. Terlebih lagi apabila kita makan bersama-sama dengan beberapa orang dari satu tempat. Tentunya kita akan dinilai tidak sopan jika mengambil makanan yang ada ditengah terlebih dahulu.

Cuci tangan sebelum dan sesudah makan

Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan adalah salah satu hal yang dianjurkan. Anjuran ini ditujukan untuk menjaga kesehatan kita dari kuman-kuman yang ada di tangan setelah beraktivitas. Dengan mencuci tangan, maka kuman di tangan kita akan hilang dan tidak masuk ke tubuh lewat makanan.

Mengenai mencuci tangan sesudah makan, Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tidur dalam keadaan tangannya masih bau daging kambing dan belum dicuci, lalu terjadi sesuatu, maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.”

Tidak duduk bersandar

Yang dimaksud duduk bersandar disini adalah segala macam jenis duduk bersandar. Ada yang bersandar ke tembok, ada pula yang bersandar pada tangan kirinya. Makan sambil duduk bersandar dimakruhkan, hal ini sejalan dengan hadist berikut:

Abu Juhaifah mengatakan, bahwa dia berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah berkata kepada seseorang yang berada di dekat beliau, “Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.”

Lantas sikap duduk bagaimanakah yang diperbolehkan? Ibnu Hajar mengatakan, “Jika sudah disadari bahwasanya makan sambil bersandar itu dimakruhkan atau kurang utama, maka posisi duduk yang dianjurkan ketika makan adalah dengan menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki atau dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.”

Tidak tengkurap

Gaya makan yang dilarang dalam ajaran islam adalah makan sambil tengkurap. Dari segi kesehatan, gaya makan ini akan membahayakan, karena orang dapat dengan mudah tersedak. Sedangkan dari nilai-nilai ajaran islam, gaya makan seperti ini jelas-jelas dilarang oleh Rasulullah SAW. Hal ini tercremin dalam sebuah hadist shahih:

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua jenis makanan: yaitu duduk dalam jamuan makan yang menyuguhkan minum-minuman keras dan makan sambil tengkurap.”

Segera makan ketika makanan siap

Pada saat kita ingin makan, dan makanan sudah siap, sebaiknya kita makan dengan tenang. Meskipun waktu sholat telah tiba, namun perasaan kita sangat ingin makan, maka akan lebih baik dahulukan makan. Sebaiknya makan juga tidak tergesa-gesa. Pengutamaan makan terlebih dahulu ini ditujukan untuk meningkatkan kekhusukan kita dalam sholat, setelah hajat kita terpenuhi. Hal ini sesuai dengan beberapa riwayat berikut:

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika makan malam sudah disajikan dan Iqamah shalat dikumandangkan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Nafi’, beliau mengatakan terkadang Ibnu Umar mengutusnya untuk satu keperluan, padahal beliau sedang berpuasa. Kemudian makan malam disajikan kepada Ibnu Umar, sedangkan shalat Magrib sudah dikumandangkan. Bahkan beliau mendengar suara bacaan imam (shalat) yang sudah mulai shalat, tetapi beliau tidak meninggalkan makan malamnya, tidak pula tergesa-gesa, sehingga menyelesaikan makan malamnya. Setelah itu beliau baru keluar dan melaksanakan shalat. Ibnu Umar menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian tergesa-gesa menyelesaikan makan malam kalian jika sudah disajikan.” (HR. Ahmad)

Dari Aisyah beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah shalat saat makanan sudah disajikan dan pada saat menahan buang air besar dn buang air kecil.” (HR. Muslim)

Tetapi, jika makanan sudah disajikan namun kita tidak dalam kondisi terlalu lapar dan sedang tidak ingin makan, maka hendaknya kita lebih mengutamakan shalat dari pada makan.

Makan dengan tiga jari

Makan dengan tangan yang diajarkan Rasulullah SAW adalah dengan menggunakan tiga jari, yaitu ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. Selain itu Rasulullah SAW menganjurkan untuk menjilati jari-jari tersebut sebelum mencucinya. Hal ini tersirat dalam sebuah hadist:

Dari Ka’ab bin Malik dari bapaknya beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.”

Dari hadist tersebut Ibnu Utsaimin mengambil kesimpulan: “Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, yaitu jari tengah, jari telunjuk, dan jempol, karena hal tersebut menunjukkan tidak rakus dan ketawadhu’an. Akan tetapi hal ini berlaku untuk makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari. Adapun makanan yang tidak bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari, maka diperbolehkan untuk menggunakan lebih dari tiga jari, misalnya nasi. Namun, makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari maka hendaknya kita hanya menggunakan tiga jari saja, karena hal itu merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Menjilati jari dan sisa makanan

Setiap makanan yang kita makan sebenarnya mengandung berkah. Namun tidak sekalipun kita mengerahui dimana berkah dari makanan tersebut. Agar kita tidak kehilangan berkah dari makanan tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk menjilat jari-jari yang digunakan untuk makan, serta sisa makanan pada piring. Hal ini tersurat dalam hadist berikut:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu di antara kalian makan, maka janganlah dia bersihkan tangannya sehingga dia jilati atau dia minta orang lain untuk menjilatinya.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031)

Mengenai menjilati piring yang digunakan untuk makan, Ibnu Utsaimin mengatakan, “Selayaknya piring atau wadah yang dipakai untuk meletakkan makanan dijilati. Artinya jika kita sudah selesai makan, maka hendaknya kita jilati bagian pinggir dari piring tersebut sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena kita tidak mengetahui letak keberkahan makanan. Satu hal yang ironi, banyak orang yang selesai makan namun tidak melaksanakan sunnah Nabi ini sehingga kita dapatkan piring-piring makanan tersebut sebagaimana semula. Sebab terjadinya hal ini adalah ketidakpahaman akan sunnah Nabi. Seandainya orang-orang alim mau menasihati orang-orang awam untuk melaksanakan sunnah Nabi berkenaan dengan makan dan minum ketika mereka makan bersama orang-orang awam, tentu berbagai sunnah Nabi ini akan tersebar luas. Semoga Allah memaafkan kita karena betapa seringnya kita meremehkan dan tidak melaksanakan sunnah-sunnah Nabi.” (Syarah Riyadhus Shalihin Juz VII hal 245)

Mengambil makanan yang jatuh

Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dia akan selalu mengintai manusia dalam setiap kesempatan, termasuk saat makan. Untuk menghindari ikutnya setan saat kita makan, Nabi SAW menganjurkan kita untuk membaca basmallah saat sebelum makan. Selain membaca basmallah sebelum makan, ada hal lain yang perlu diperhatikan oleh kaum muslimin untuk menghindari setan ikut makan bersama kita. Hal tersebut adalah memungut makanan yang jatuh, membersihkan kotorannya, dam memakannya kembali. Perintah Rasulullah SAW ini termaktub dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad:

Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika makanan salah satu kalian jatuh maka hendaklah diambil dan disingkirkan kotoran yang melekat padanya, kemudian hendaknya di makan dan jangan dibiarkan untuk setan” Dalam riwayat yang lain dinyatakan, “sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaknya dibersihkan kemudian di makan dan jangan dibiarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari jemari dijilati karena tidak diketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah.”

Dalam kasus ini, Syaikh Muhammad Ibnu Shaleh al-Utsaimin mengatakan: “Jika ada makanan yang jatuh maka jangan dibiarkan akan tetapi diambil, jika pada makanan tersebut ada kotoran maka dibersihkan dan kotorannya tidak perlu dimakan karena kita tidaklah dipaksa untuk memakan sesuatu yang tidak kita sukai. Oleh karena itu kotoran yang melekat pada makanan tersebut kita bersihkan baik kotorannya berupa serpihan kayu, debu atau semacamnya. setelah kotoran tersebut dibersihkan hendaklah kita makan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan janganlah makanan tersebut dibiarkan untuk setan” karena setan selalu bersama manusia. jika ada orang hendak makan maka setan menyertainya, jika ada orang yang hendak minum maka setan juga menyertainya bahkan jika ada orang yang hendak menyetubuhi istrinya maka setan pun datang dan menyertainya. Jadi setan itu menyertai orang-orang yang lalai dari Allah.

Namun jika kita mengucapkan bismillah sebelum makan maka bacaan tersebut menghalangi setan untuk bisa turut makan. Setan sama sekali tidak mampu makan bersama kita jika kita sudah menyebut nama Allah sebelum makan, akan tetapi jika kita tidak mengucapkan bismillah maka setan makan bersama kita. Bila kita sudah mengucapkan bismillah sebelum makan, maka setan masih menunggu-nunggu adanya makanan yang jatuh ke lantai. Jika makanan yang jatuh tersebut kita ambil maka makanan tersebut menjadi hak kita, namun jika kita biarkan maka setanlah yang memakannya. Jadi, setan tidak menyertai kita ketika kita makan maka dia menyertai kita dalam makanan yang jatuh ke lantai. Oleh karena itu hendaknya kita persempit ruang gerak setan berkenaan dengan makanan yang jatuh. Oleh karena itu, jika ada suapan nasi, kurma atau semacamnya yang jatuh ke lantai maka hendaknya kita ambil. Jika pada makanan yang jatuh tersebut terdapat kotoran berupa debu atau yang lainnya, maka kotoran tersebut hendaknya kita singkirkan dan makanan tersebut kita makan dan tidak kita biarkan untuk setan.” (Syarah Riyadhus Shalihin, Juz VII hal 245-246)

Tidak mengambil makanan lebih dari satu

Pada saat kita makan bersama dengan orang lain, sangat tidak dianjurkan untuk mengambil makanan lebih dari satu, tanpa seijin yang lain. Terlebih lagi jika makanan tersebut adalah milik bersama. Hal ini sesuai denganhadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

Dari Syu’bah dari Jabalah beliau bercerita: “Kami berada di Madinah bersama beberapa penduduk Irak, ketika itu kami mengalami musim paceklik. Ibnu Zubair memberikan bantuan kepada kami berupa kurma. Pada saat itu, Ibnu Umar melewati kami sambil mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengambil makanan lebih dari satu kecuali sesudah minta izin kepada saudaranya.”

Tidak mencela makanan

Yang dimaksud dengan mencela makanan adalah mengomentari makanan yang sedang disajikan dengan kata-kata yang menggambarkan ketidaksukaan terhadap makanan tersebut. Kata-kata yang digunakan untuk mencela dapat berupa pencelaan terhadap rasanya (asin, pahit, masam), kondisi makanan tersebut (terlalu keras, terlalu lembek, mentah), maupun hal lainnya. Seorang muslim tidak dibenarkan mencela makanan yang disajikan, meskipun keadaan makanan tersebut sesuai dengan yang dikatakannya.

Larangan mencela makanan ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang terdapat dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

Dari Abu Hurairah r.a beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.”

Dari hadist tersebut kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting, diantaranya adalah:

  • Setiap makanan yang mubah itu tidak pernah Nabi cela. Sedangkan makanan yang haram tentu Nabi mencela dan melarang untuk menyantapnya.
  • Hadits di atas menunjukkan betapa luhurnya akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah seorang yang memperhatikan perasaan orang yang memasak makanan. Oleh karena itu, Nabi tidaklah mencela pekerjaan yang sudah mereka lakukan, tidak menyakiti perasaan dan tidak melakukan hal-hal yang menyedihkan mereka.
  • Hadits di atas juga menunjukkan sopan santun. Boleh jadi suatu makanan tidak disukai oleh seseorang akan tetapi disukai oleh orang lain.
  • Segala sesuatu yang diizinkan oleh syariat tidaklah mengandung cacat. Oleh karena itu tidak boleh dicela.
  • Hadits di atas merupakan pelajaran yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyikapi makanan yang tidak disukai, yaitu dengan meninggalkan tanpa mencelanya.

Makan sesudah makanan dingin

Pada saat makanan disajikan dalam keadaan panas, janganlah tergesa-gesa untuk menikmatinya. Biarkanlah makanan tersebut menjadi dingin terlebih dahulu. Dari sisi kesehatan, makanan yang panas tidak baik untuk kesehatan tubuh. Dan sebagai muslim, anjuran menyantap makanan yang sudah dingin diberikan oleh Rasulullah SAW, dan kita wajib untuk mentaatinya. Hal ini tesirat dalam hadist berikut:

Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, jika beliau membuat roti Tsarid maka beliau tutupi roti tersebut dengan sesuatu sampai panasnya hilang. Kemudian beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hal tersebut lebih besar berkahnya.”

Larangan bernafas dan meniup air minum

Salah satu etika makan dan minum yang dianjurkan bagi seorang muslim adalah larangan untuk bernafas pada air minum, dan meniup air minum. Tujuan dari larangan ini adalah menghindari jatuhnya kotoran dari hidung ke dalam air minum. Sedangkan larangan untuk meniup air minum adalah supaya air minum tersebut tidak berbau nafas, terlebih lagi jika air minum tersebut dikonsumsi banyak orang.

Anjuran untuk tidak bernafas dan meniup air minum ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW berikut:

Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian minum maka janganlah mengambil nafas dalam wadah air minumnya.” (HR. Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 263)

Dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengambil nafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Turmudzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)

Penyedia minum terakhir

Orang yang meyediakan minuman dianjurkan untuk minum terakhir. Selain sebagai salah satu cara untuk menghormati orang yang dijamu, hal ini juga sebagai antisipasi jika minuman yang disediakan kurang, sehingga yang tidak kebagian hanyalah si penjamu. Hadist Rasulullah mempertegas hal ini:

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Sesungguhnya orang yang menyuguhkan minuman kepada sekelompok orang adalah orang yang minum terakhir kali.” (HR Muslim no. 281)

Berkaitan dengan hal ini, Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan: “Maksud hadist tersebut adalah orang yang menyuguhkan minuman baik berupa air, susu, kopi atau teh seyogyanya merupakan orang yang terakhir minum untuk mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri dan supaya jika minuman tersebut ternyata kurang maka yang kurang adalah orang yang menyuguh tadi. Tidak diragukan lagi bahwa sikap seperti ini merupakan sikap yang terbaik karena melaksanakan perintah dan adab yang diajarkan oleh Nabi. Akan tetapi jika penyuguh tersebut tidak berkeinginan untuk minum maka dia tidaklah berkewajiban untuk minum sesudah yang lain minum. Dalam hal ini penyuguh boleh minum boleh juga tidak meminum.

Makan sambil bicara

Pada beberapa wilayah di negara kita, makan sambil berbicara merupakan hal yang tabu. Namun sunnah Nabi mengajarkan lain. Justru Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk makan sambil berbicara. Hal ini dilakukan untuk membedakan kaum muslimin dengan orang kafir, sebab makan tanpa bicara merupakan kebiasaan orang kafir.

Ibnul Muflih mengatakan bahwa Ishaq bin Ibrahim bercerita, “Suatu ketika aku makan malam bersama Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad bin Hanbal ditambah satu kerabat beliau. Ketika makan kami sedikit pun tidak berbicara sedangkan Imam Ahmad makan sambil mengatakan alhamdulillah dan bismillah setelah itu beliau mengatakan, “Makan sambil memuji Allah itu lebih baik daripada makan sambil diam.” Tidak aku dapatkan pendapat lain dari Imam Ahmad yang secara tegas menyelisihi nukilan ini. Demikian juga tidak aku temukan dalam pendapat mayoritas ulama pengikut Imam Ahmad yang menyelisihi pendapat beliau di atas. Kemungkinan besar Imam Ahmad berbuat demikian karena mengikuti dalil, sebab di antara kebiasaan beliau adalah berupaya semaksimal mungkin untuk sesuai dengan dalil.” (Adab Syariyyah, 3/163)

Dalam al-Adzkar, Imam Nawawi mengatakan, “Dianjurkan berbicara ketika makan. Berkenaan dengan ini terdapat sebuah hadits yang dibawakan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam sub “Bab memuji makanan”. Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab al-Ihya mengatakan bahwa termasuk etika makan ialah membicarakan hal-hal yang baik sambil makan, membicarakan kisah orang-orang yang shalih dalam makanan.” (al-Adzkar hal 602).

Makan bersama dalam satu piring

Dalam ajaran Nabi tentang tata cara makan, terdapat anjuran untuk makan ersama dari satu tempat/piring. Hal ini disebabkan semakin banyak orang yang makan dari satu piring, maka semakin besar pula berkah yang terdapat dalam makanan tersebut. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dan juga Abu Dawud:

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menyatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan satu orang itu cukup untuk dua orang. Makanan dua orang itu cukup untuk empat orang. Makanan empat orang itu cukup untuk delapan orang.” (HR Muslim no 2059)

Dari Wahsyi bin Harb dari bapaknya dari kakeknya, “Sesungguhnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengadu, wahai Rasulullah sesungguhnya kami makan namun tidak merasa kenyang. Nabi bersabda, “Mungkin kalian makan sendiri-sendiri?” “Betul”, kata para sahabat. Nabi lantas bersabda, “Makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah sebelumnya tentu makanan tersebut akan diberkahi.” (HR Abu Dawud no. 3764 dan dinilai shahih oleh al-Albani.)

Dari hadist tersebut, Syaikh Utsaimin menjelaskan sebab-sebab makan tidak kenyang:

  • Tidak menyebut nama Allah sebelum makan. Jika nama Allah tidak disebut sebelum makan maka setan akan turut menikmatinya dan berkah makanan tersebut menjadi hilang.
  • Memulai makan dari sisi atas piring. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mulai makan dari sisi atas piring karena pada sisi atas piring tersebut terdapat barakah sehingga yang tepat adalah makan dari sisi pinggir piring.
  • Makan sendiri-sendiri. Makan sendiri-sendiri berarti setiap orang memegang piring sendiri sehingga setiap makanan yang ada harus dibagi lalu berkah makanan dihilangkan. Hal ini menunjukkan bahwa sepatutnya makanan untuk sekelompok orang itu diletakkan dalam satu nampan baik berjumlah sepuluh ataupun lima orang hendaknya jatah makan untuk mereka diletakkan di satu piring yang cukup untuk mereka. Karena hal ini merupakan sebab turunnya keberkahan makanan. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa makan sendiri-sendiri merupakan sebab hilangnya keberkahan makanan.

Porsi makanan

Kadangkala kita mengambil makan dengan porsi yang berlebih, atau kurang. Padahal hal ini dapat berakibat kurang baik. Porsi yang besar akan menyebabkan kita kekenyangan dan malas untuk melakukan berbagai kebajikan. Sedangkan porsi yang sedikit membuat tubuh terasa lemas, sehingga tidak kuat untuk melakukan amal kebajikan.

Untuk menghindari kedua hal tersebut, ada baiknya kita ingat selalu pesan Rasulullah SAW, yang termuat dalam hadist berikut:

Dari Miqdam bin Ma’di Karib beliau menegaskan bahwasanya beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang manusia memenuhi satu wadah yang lebih berbahaya dibandingkan perutnya sendiri. Sebenarnya seorang manusia itu cukup dengan beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Namun jika tidak ada pilihan lain, maka hendaknya sepertiga perut itu untuk makanan, sepertiga yang lain untuk minuman dan sepertiga terakhir untuk nafas.” (HR. Ibnu Majah no. 3349 dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Ibnu Majah no. 2720)

Larangan menghadiri jamuan dengan khamr

Dari Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu melarang dua jenis makanan, pertama, menghadiri jamuan yang mengedarkan khamar, kedua, makan sambil telungkup.” (HR. Abu Dawud no. 3774 dan dinilai shahih oleh al-Albani) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barang siapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menghadiri perjamuan yang mengedarkan khamr.” (HR. Ahmad no. 14241)

Hadits tersebut secara tegas melarang menghadiri jamuan makan yang menyediakan khamr. Hal ini menunjukkan bahwa hukumnya adalah haram. Karena duduk di suatu tempat yang mengandung kemungkaran merupakan pertanda ridha dan rela dengan kemungkaran tersebut.

(bersumber  dari http://www.muslim.or.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: