Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Sukses Hadapi Krisis Rumah Tangga

Posted by anurachman pada Mei 2, 2009

Tidak selamanya rumah tangga akan berjalan dengan tenang, tanpa ada riak yang menganggunya. Terkadanga kita menemui hambatan yang tidak seberapa, namun tidak jarang pula persoalan yang besar menerpa rumah tangga kita. Setiap permasalahan rumah tangga yang timbul selayaknya untuk disikapi dengan bijak. Jika kita mampu menyikapinya dengan baik, maka masalah rumah tangga yang ada akan menjadi bumbu penyedap dalam keluarga yang kita bina.

Namun jika pasangan suami istri tidak dapat menghadapi persoalan rumah tangga yang timbul dengan bijak, bukan tidak mungkin persoalan tersebut akan menjadi “bom waktu”, yang dapat menghancurkan keutuhan rumah tangga. Bahkan perceraian bisa terjadi di kemudian hari. Kenangan masa indah waktu pacaran akan hilang, impian mewujudkan keluarga yang bahagia akan sirna. Hal ini hany dikarenakan tidak mampunya pasangan suami istri meyikapi permasalahan yang timbul dalam rumah tangga.

Memikirkan kesempatan kedua. Hal ini mungkin menjadi solusi pertama jika pertengkaran “besar” telah terjadi. Pertengkaran dan pertentangan dalam 5 – 7 tahun pernikahan bukanlah sesuatu yang janggal. Namun ketika kemarahan dan perseteruan berlanjut menjadi rasa kecewa dan luka mendalam, biasanya masing-masing pasangan mulai berpikir, “Bagaimana hubungan kami bisa menjadi seburuk ini?”.

David Wilchfort, terapis perkawinan di Munich, Jerman, menekankan agar pasangan muda tidak tergesa-gesa memutuskan untuk mengakhiri hubungan. “Sebuah kesempatan kedua bisa menjadi pilihan dan sukses dilalui banyak pasangan suami-istri dalam krisis,” jelasnya. Syaratnya, masing-masing pasangan melangkah bersama dengan pandangan yang tepat, terutama terhadap upaya membangun kembali “puing-puing” rumah tangga yang sempat berserakan.

Pertanyaan-pertanyaan kritis.

Kita semua menyadari, bahwa ketika hubungan suami istri tak lagi dapat disatukan dari aspek manapun, maka perkawinan terancam bubar. Namun seringkali ada pertentangan batin yang dialami baik oleh suami atau istri untuk menyikapi hal tersebut. Di suatu hari, masalah mereka nampak begitu jelas, dan tak ada lagi yang dapat diselamatkan. Tapi di hari lain, masing-masing masih merasa saling menyayangi dan menyesal, mengapa hubungan mereka retak.

Untuk meluruskan hal tersebut, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh masing-masing pihak, baik suami maupun istri, dengan sejujurnya. Hal ini cukup penting, karena jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kritis ini dapat memberikan gambaran solusi yang harus diambil dalam rumah tangga, apakah akan mempertahankan mahligai rumah tangga, atau hubungan suami istri “cukup sampai disini”.

Pertanyaan pertanyaan kritis yang harus dijawab dengan hati-hati tersebut diantaranya adalah:

•    Apakah salah satu dari Anda bersikap tidak loyal satu sama lain?

•    Apakah Anda masih saling menghormati satu sama lain?

•    Apakah Anda bersama-sama dapat berkembang dalam perkawinan ini?

•    Apakah Anda berdua masih dapat membuat sebuah keputusan penting bersama-sama?

•    Apakah Anda berdua masih memiliki tujuan bersama di masa depan?

•    Apakah Anda berdua masih dapat tertawa bersama?

•    Apakah Anda ,masih memiliki banyak waktu untuk makan bersama?

•    Apakah Anda masih memiliki kepedulian satu sama lain?

•    Apakah Anda dapat masih dapat menikmati kedekatan fisik satu sama lain?

•    Terlepas dari semua masalah yang menimpa hubungan Anda dengan pasangan, apakah Anda untuk menjalin kembali hubungan Anda yang sudah retak dengan pasangan?

Dari jawaban yang Anda buat, Anda dapat menelaah sendiri, apakah hubungan Anda dengan pasangan masih dapat dipertahankan atau terpaksa harus diakhiri. Tentu saja jika jawabannya sebagian besar “ya” berarti Anda siap untuk memulai hubungan Anda dengan pasangan kembali. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus dan tidak boleh dilakukan.

Honeymoon kedua dan “PR”

Salah satu cara yang paling umum disarankan para ahli atau penasehat perkawinan adalah melakukan perjalanan bersama atau bulan madu kedua. Manfaat bulan madu kedua memang bukan “isapan jempol”. Kerap kali pasangan dalam krisis, merasakan cinta yang lebih segar, hangat dan indah sepulang dari “bulan madu”. Namun tak jarang, beberapa pasangan kembali dihadang badai, yang barangkali lebih keras dibandingkan sebelumnya.

Krisis rumah tangga tak mungkin tidak meninggalkan bekas luka. Rasa tidak percaya tak otomatis beralih menjadi rasa saling percaya. Rasa kesal tak lantas lenyap dari hati. Meskipun beberapa hari disisihkan bersama untuk melewatinya dengan indah dan memperbaiki hubungan. Artinya, prinsip yang harus sama-sama diyakini bukanlah melupakan masalah, melainkan memperbaiki akar masalah.

Tips Sukses Memanfaatkan Bulan Madu Kedua

  • Persiapkan perjalanan sebaik mungkin. Pastikan akomodasi dan transportasi tidak memiliki potensi masalah. Bila perlu minta bantuan biro perjalanan terpercaya.
  • Pilih tempat yang membawa Anda kembali pada kenangan indah saat Anda pertama kali berjumpa atau bulan madu pertama.
  • Lupakan untuk sementara urusan kantor, anak (bisa dititipkan pada orang tua atau kerabat yang dapat dipercaya), berbagai masalah yang menjadi sumber keretakan.
  • Cobalah “memanggil” kembali (recall) kenangan indah melalui hal-hal sederhana. Misalnya, untuk komunikasi yang lebih hangat, panggillah pasangan dengan nama sayang Anda ketika masih berpacaran. Atau, kenakan pakaian atau wewangian yang disukai pasangan apabila Anda mengenakannya.
  • Persiapkan pula strategi untuk memperbaiki hubungan. Artinya, nikmati perjalanan, keintiman dan kehangatan saat bersama pasangan, tetapi dengan tetap mengerjakan “PR” yang Anda bawa dari rumah. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada. PR berlanjut hingga hari-hari sepulang bulan madu.

Komunikasi tentu modal utama. Jika perlu dapatkan pelatihan komunikasi pernikahan efektif atau berkonsultasi. Sehingga, bulan madu tak mengalir tanpa arah. Padahal jelas, Anda berdua ingin mencapai sebuah perbaikan. Menurut studi, pasangan suami-istri bahkan dapat mengatasi masalah saat masih dalam proses saling belajar berkomunikasi dan mengkomunikasikan diri.

Prinsip berikutnya, setelah mencapai perbaikan, Anda berdua harus membangun kembali hubungan akibat keretakan yang sempat terjadi. Modal utamanya adalah kompromi. Dengan sikap saling membuka diri untuk berkompromi, maka beberapa kesepakatan baru dapat dibuat, dan perubahan akan terjadi. Percayalah, perubahan yang Anda jumpai ini – baik atau buruk – bukanlah hasil kerja “tangan-tangan ajaib”. Melainkan kerja keras, daya dan upaya berdua dalam mengelola kembali hubungan terindah yang Anda jalin bersama pasangan hidup.

sumber: ayahbunda.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: