Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Kasih Sayang Allah SWT

Posted by anurachman pada Mei 2, 2009

Oleh Dr. Attabiq Luthfi, MA

وَءَاتَٮٰكُم مِّن ڪُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُ‌ۚ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ‌ۗ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَظَلُومٌ۬ ڪَفَّارٌ۬

“Dan Dia (Allah) Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim lagi sangat mengingkari (kufur nikmat)“ (Ibrahim: 34)

Pernahkah kita merenungi dan menyadari akan adanya kasih saang yang diberikan Allah SWT kepada kita? Jika kita mampu membaca dan merenungi apa yang ada di alam dunia ini, maka kita akan dapati bahwa kasih sayang Allah SWT begitu besar kepada makhluk-Nya. Karena itulah, penting bagi kita untuk dapat membaca apa-apa yang ada di ala mini. Bukankah firman Allah SWT yang pertama kali disampaikan kepada Nabi Muhammad saw adalah perintah untuk membaca?

(ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ (١) خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ (٢) ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ (٣) ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ (٤) عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ (٥

Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu Yang menciptakan, (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (2) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (3) Yang mengajar [manusia] dengan perantaraan kalam (4) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (5) [QS Al Alaq: 1-5)

Dalam ayat yang kami kutip pada awal tulisan ini, tersirat betapa banyaknya dan besarnya kasih sayang Allah SWT kepada kita. Ayat di atas hadir untuk mengingatkan manusia akan kasih sayang Allah swt. yang memberikan segala yang dibutuhkan, sekaligus merupakan perintah untuk senantiasa membaca karunia tersebut agar tidak termasuk orang yang zalim, apalagi kufur nikmat seperti yang disebutkan di kalimat terakhir ayat tersebut di atas ‘Sesungguhnya manusia itu sangat zalim lagi sangat ingkar nikmat.’

Tentu, ayat ini tidak berdiri sendiri seperti juga seluruh ayat-ayat Al-Quran. Setiap ayat memiliki keterkaitan dan korelasi dengan ayat sebelum atau sesudahnya yang menunjukkan ‘wahdatul Qur’an’ kesatuan dan kesepaduan ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk ayat di atas ini harus dibaca dengan mengkorelasikannya dengan dua ayat sebelumnya yang menggambarkan sekian banyak dari nikmat Allah swt. yang harus dibaca dengan penuh kesadaran:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٲتِ رِزۡقً۬ا لَّكُمۡ‌ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡفُلۡكَ لِتَجۡرِىَ فِى ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦ‌ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡأَنۡهَـٰرَ
وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ دَآٮِٕبَيۡنِ‌ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّہَارَ

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan [pula] bagimu sungai-sungai. (32) Dan Dia telah menundukkan [pula] bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar [dalam orbitnya]; dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (33) [QS Ibrahim: 32-33]

Ayat yang senada dengan ayat di atas sebagai bentuk tantangan Allah kepada seluruh makhlukNya sekaligus perintahNya untuk membaca hamparan karunia nikmatNya yang tiada terhingga adalah surah An-Nahl: 18:

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬

Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An-Nahl:18)

Dalam penutup ayat ini Allah SWT hadir dengan dua sifat yang merupakan puncak dari kasih sayang-Nya, yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.

Dalam kitab Tafsir Al Qur’an Al Azhim, Ibnu Katsir menyatakan bahwa selain dari perintah Allah untuk membaca nikmat Allah, pada masa yang sama merupakan sebuah pernyataan akan ketidak berdayaan hamba Allah swt. dalam menghitung nikmat-Nya, apalagi menjalankan kesyukuran karenanya, seperti yang dinyatakan oleh Thalq bin Habib:

“Sesungguhnya hak Allah sangat berat untuk dipenuhi oleh hamba-Nya. Demikian juga nikmat Allah begitu banyak untuk disyukuri oleh hamba-Nya. Karenanya mereka harus bertaubat siang dan malam.”

Membaca dan menyadari kasih sayang yang Allah SWT berikan merupakan langkah awal bagi umat manusia untuk mensyukuri nikmat-Nya. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menysukuri segala nikmat yang telah Allah SWT limpah kan kepada kita. Sedang jika kita diberi sesuatu oleh manusia saja kita mengucapkan ‘terima kasih’, masa kita tidak mau mensyukuri nikmat yang Allah SWT karuniakan kepada kita?

Mari kita renungkan, apakah kita sudah bersyukur atas nikmat Allah SWT atau belum. Lantas, bagaimana kita membuktikan bahwa kita sudah bersyukur? Setidaknya ada empat bukti yang dapat kita temukan pada orang-orang yang selalu mensyukuri nikkmat Allah SWT. Keempat bukti tersebut adalah:

1.    Mengekspresikan kegembiraan dengan kehadiran nikmat tersebut

2.    Mengapresiasikan rasa syukur dengan ungkapan lisan dalam bentuk pujian

3.    Membangun komitmen dengan memelihara dan memanfaatkan nikmat tersebut di jalan Allah SWT

4.    Mengembangkan dan memberdayakan nikmat Allah SWT dengan sebaik-baiknya

Rasa syukur atas segala karunia dan kasih sayang yang Allah SWT limpahkan kepada kitamerupakan suatu hal yang wajib dimiliki oleh setiap insan. Namun, tidak sedikit manusia yan lalai untuk bersyukur, bahkan nikmat yang Allah SWT turunkan justru menjadikannya berlaku sombong di atas bumi ini. Mereka inilah yang telah terkena bisikan dari iblis dan kaumnya.

Mega proyek Iblis adalah bagaimana menjauhkan manusia dari kasih sayang Allah SWT sehingga mereka senantiasa hanya membaca ujian dan cobaan yang menimpanya agar mereka tidak termasuk kedalam golongan yang mensyukuri nikmat-Nya. Padahal secara jujur, kasih sayang Allah swt. dalam bentuk anugerah nikmatNya pasti jauh lebih besar daripada ujian maupun sanksi-Nya. Di sini, kelemahan manusia membaca nikmat merupakan keberhasilan proyek iblis menyesatkan manusia. Allah menceritakan tentang proyek Iblis dalam firman-Nya:

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِى لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٲطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ

١ثُمَّ لَأَتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيہِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَـٰنِہِمۡ وَعَن شَمَآٮِٕلِهِمۡ‌ۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَـٰكِرِينَ

“Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.“ (Al-A’raf: 16-17)

Dalam konteks ini, sungguh usaha dan kerja Iblis tidak main-main. Ia akan memperdaya manusia dari seluruh segmentasi dan celah kehidupannya tanpa terkecuali. Jika manusia kuat dari aspek harta, maka ia akan datang melalui pintu wanita. Jika ia kuat pada pintu wanita, ia akan datang dari pintu jabatan dan begitu seterusnya tanpa henti. Sehingga akhirnya hanya segelintir manusia yang akan selamat dari bujuk rayu syetan dan menjadi pribadi yang bersyukur. Allah SWT pernah berpesan kepada Nabi Daud as agar mewaspadai hal tersebut dalam firman-Nya: “Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih (bersyukur).“ (Saba’: 13).

Memang hanya sedikit sekali yang cerdas dan bijak membaca kasih sayang Allah SWT. Selebihnya adalah manusia yang suka berkeluh kesah, mengeluh dan tidak bersyukur atas karunia nikmat yang ada. Bahkan kerap menyalahkan orang lain dan berperasangka buruk kepada Allah SWT. Padahal kebaikan dan pahala sikap syukur itu akan kembali kepada diri sendiri, bukan kepada orang lain. Karenanya ujian kesyukuran itu akan terus menyertai manusia sampai Allah SWT benar-benar tahu siapa yang bersyukur diantara hamba-Nya dan siapa di antara mereka yang kufur.

Wallahu a’lam
(disadur dari dakwatuna.com, dengan edit dan tambahan seperlunya oleh admin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: