Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Bercerai Tapi Bersahabat

Posted by anurachman pada Mei 2, 2009

Satu hal yang pasti tidak diinginkan oleh setiap orang adalah perceraian. Meskipun secara harfiah, perceraian memiliki maksud berpisah dan terputusnya hubungan suami istri, namun dampak yang ditimbulkan oleh perceraian sungguh besar. Terlebih lagi pada anak-anak, yang tidak tahu dan tidak mau tahu mengapa kedua orang tuanya harus berpisah.

Satu hal yang berkembang dalam masyarakat, dan ini sangat mudah ditemukan, adalah sikap saling menyalahkan dan saling merendahkan yang dilakukan oleh mantan suami maupun mantan istri terhadap mantan pasangannya. Perselisihan ini sering berlanjut, meskipun keputusan cerai sudah disahkan pengadilan agama. Sangat jarang kita temui suami-istri yang bercerai dapat tetap berhubungan baik. Padahal hal ini akan sangat besar pengaruhnya terhadap psikologi anak hasil perkawinan mereka.

Dalam bukunya, What About the Kids: Raising Your Children Before, During, and After Divorce, Judith S Wallerstein Ph.D menyatakan bahwa perceraian dan perpisahan orang tua dapat mengakibatkan munculnya perassaaan takut pada anak korban perceraian, berapapun usia anak tersebut. Hal ini disebabkan anak berpandangan, jika orang tuanya bisa saling menyakiti dan meninggalkan, maka akan ada saatnya pula orang tua meninggalkannya.
Anak membutuhkan keyakinan bahwa hal yang dipikirkannya tidak benar. Sekalipun demikian, rasa aman yang ditumbuhkan pada anak bukanlah rasa aman yang semu. Anak perlu mengetahui bahwa keberadaan ayah dan ibu bersamanya, bukan berarti meralat keputusan untuk bercerai, namun orang tua tetap ada demi dirinya, dan bahwa ia tidak akan kehilangan kasih sayang mereka, hanya karena bercerai.

Lantas apakah yang harus dilakukan oleh orang tua yang telah bercerai, demi menjaga perasaan dan mengurangi dampak perceraian terhadap psikologi anak hasil perkawinan mereka? Orang tua yang bercerai sebaiknya tetap bersahabat demi anak-anak mereka.

Menjalin hubungan baik.

Umumnya sebelum, selama, dan setelah proses perceraian, pasangan mengalami konflik hebat yang membuat mereka saling menyakiti. Hal ini cenderung sulit dihindari, tetapi sebaiknya dipikirkan baik-baik terutama jika pasangan yang mengalaminya memiliki anak.

Sekalipun tidak bisa berbaik-baik pada pasangan, sebaiknya orang tua yang bercerai memahami bahwa setiap resiko merupakan tanggung jawab bersama. Jangan menimpakannya pada anak. Pemikiran ini sebaiknya menjadi dasar sikap Anda ketika menghadapi perceraian.

Agar dampak proses perceraian dapat diminimalisasi pada anak, pastikanlah orang tua yang akan atau sudah bercerai melakukan langkah-langkah berikut ini:

Sampaikan baik-baik. Memori seorang anak akan menyimpan kejadian-kejadian penting dalam hidupnya untuk jangka waktu yang lama. Terlebih lagi jika kejadian tersebut merupakan sebuah peristiwa besar yang dapat mempengaruhi kehidupannya kelak, termasuk perceraian kedua orang tuanya. Keputusan perceraian yang disampaikan oleh orang tuanya akan membuatnya panik dan mengurangi rasa amannya. Karena itu, teknik memnyampaikan berita perceraian kepada anak tidak bisa dianggap sepele.

Idealnya berita ini disampaikan bersama-sama pada anak oleh Anda dan pasangan. Sampaikan bahwa keputusan itu diambil untuk kebaikan bersama. Jelaskan juga bahwa pernikahan ini diawali oleh cinta, dan sebenarnya Anda mengharapkan untuk selalu bersama. Tetapi setelah dijalani hal tersebut tidak terlaksana. Ungkapkan juga bahwa Anda sebenarnya sedih dan kecewa. Pastikan pula bahwa perpisahan ini bukan salah anak, Anda dan pasangan tetap akan mencintai mereka dan selalu menemani mereka sekalipun berpisah.

Jangan saling menjelekkan.

Hal yang sering terjadi pada pasangan yang bercerai adalah sikap “bermusuhan” yang tisak ada akhirnya. Masing-masing pihak akan “dengan senang hati” menjelek-jelekkan mantan pasangannya, mengumbar aib mantan pasangannya ke khalayak ramai. Hal ini akan membuat permusuhan akan terus terjadi, meskipun sudah tidak terikat dalam hubungan perkawinan.

Sekalipun tergolong sulit, sebaiknya Anda tidak mengungkapkan hal-hal buruk tentang pasangan. Jika Anda butuh bercerita atau ingin curhat tentang pasangan, pastikan anak tidak mendengar apapun. Hal yang menjadi masalah pada anak-anak korban perceraian adalah mereka selalu menduga-duga tentang kepastian mendapat perhatian dari orang tua. Karenanya sebaiknya Anda dan pasangan selalu menepati janji dan jadwal yang berhubungan dengan anak.

Masa transisi.

Kondisi yang paling menegangkan bagi anak adalah ketika dia pergi meninggalkan orang tua yang satu ke orang tua yang lain. Hal ini disebabkan karena anak merasakan ketegangan di antara kedua orang tuanya. Atasi kondisi ini dengan memberi penguatan positif bahwa Anda dan pasangan mencintai mereka, dan sangat ingin mereka menikmati suasana yang gembira ketika berada bersama Anda ataupun pasangan.

Tenggang rasa.

Umumnya orang tua berpikiran bahwa agar semuanya berjalan lancar, peraturan yang diterapkan ketika anak bersama ibu haruslah konsisten diterapkan saat ia ada bersama ayah. Sebenarnya tak perlu demikian. Anak yang paling kecil sekalipun bisa menemukan dan memahami bahwa ayah dan ibunya berbeda, demikian pula aturan ketika dia bersama ayah atau ibunya.

Kepentingan bersama.

Jika Anda adalah orang tua yang mendapatkan mandat perwalian anak, pastikan bahwa mantan pasangan tahu bahwa Anda sangat menginginkan keterlibatannya dalam kehidupan anak. Hal ini akan membuat mantan pasangan merasa lebih nyaman ketika ia akan bertemu dengan anak.

Menikmati hubungan baru.

Sekalipun semula tidak terpikirkan, sebaiknya sejak awal dipahami bahwa Anda ataupun pasangan memiliki kemungkinan menjalin hubungan baru. Pastikan Anda siap menghadapi situasi ini.

Begitu besarnya dampak perceraian pada anak-anak, sehingga reaksi anak terhadap perceraian pun berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena tidak adanya persiapan mental yang dilakukan anak saat ornag tuanya bercerai, maka mereka pun akan bereaksi sesuai dengan usianya. Lantas, seperti apakah reaksi anak pada umumnya dalam menghadapi perceraian kedua orang tuanya?

  • 0 – 3 tahun. Anak yang masih sangat muda sepertinya tidak terlalu mengalami imbas perceraian, tetapi bayi sejak berusia 2 bulan, sebenarnya sudah bisa merasakan ketegangan yang terjadi di antara orang tuanya. Jika proses perceraian terjadi, upayakanlah agar aktivitas rutin bersama anak tidak berubah. Penuhi segala kebutuhan dan kelengkapan yang bisa membuatnya merasa nyaman.
  • 3 – 5 tahun. Anak berusia pra-sekolah cenderung paling berat mengalami dampak perceraian, karena mereka sedang memupuk rasa aman. Perubahan sikap yang terjadi bisa berupa; cengeng, mudah marah, serta berbagai sikap negatif lain. Anak di usia ini cenderung berpikir bahwa merekalah penyebab perceraian orang tuanya, sehingga membutuhkan sangat banyak penguatan.

Psikolog Dra. Sugiarti Musabiq, M.Kes, mengungkap pentingnya ayah dan ibu yang telah berpisah untuk mengnyampingkan kepentingan diri sendiri. “Perceraian, bagaimanapun prosesnya, memang tetap mengandung konflik dan mempengaruhi emosi pasangan maupun anak. Senantiasa ada masa transisi yang relatif berat. Masa transisi yang dimaksud adalah perubahan keadaan yang semula tenang menjadi bergejolak karena ketidaksepahaman maupun konflik antara pasangan, yang mau tidak mau berefek pada sikap, tingkah laku dan perkataan, baik yang disadari maupun tidak”.

Menurutnya, warna, intensitas konflik, serta ketegangan yang terjadi sangat tergantung pada penyebab perceraian. Kondisi ini seringkali tidak terpikirkan oleh pasangan yang menjalani proses perceraian. Hal ini sebenarnya tidak mudah, karena pada pasangan yang akan bercerai, umumya mereka sudah lelah dengan beban perasaan-perasaan negatif selama konflik terjadi. Padahal status anak tidak berubah. Sekalipun orang tua berpisah, mendidik anak adalah tanggung jawab bersama.

Agar hubungan tetap baik setelah perceraian, sebaiknya ayah dan ibu membuat kesepakatan jadwal rutin kegiatan bersama anak, agar anak tetap merasakan bahwa kedua orang tua tetap menyayangi dirinya.

Sumber: Parenting.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: