Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Lima Golongan Pencinta Dunia

Posted by anurachman pada April 29, 2009

Dunia………….

Banyak pandangan orang mengenai dunia. Ada yang menganggapnya sebagai tempat istirahat dalam perjalanan sebelum mencapai tujuan, ada pula yang menganggapnya sebagai bagian dari perjalanan itu. Namun tidak sedikit pula orang-orang yang menganggap bahwa dunia adalah tempat akhir perjalanannya.

Orang yang menganggap bahwa dunia hanyalah tempat singgah akan berupaya untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya sebelum melanjutkan perjalanannya, menuju alam akhirat yang kekal abadi. Berbagai amal kebaikan dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan harapan amal tersebut akan menjadi “teman”nya dalam menempuh perjalanan selanjutnya. Hal ini berbeda dengan orang-orang yang menganggap bahwa kehidupan dunia adalah atujuannya…….. mereka akan mencari kesenangan duniawi, hingga tidak peduli lagi dengan cara-cara yang digunakan.

Mereka akan berlomba-lomba untuk mengumpulkan berbagai harta benda, kekayaan, bersaing untuk merebut kekuasaan demi tujuan mereka merengkuh kesenangan semu diatas dunia. Beragam cara dilakukan untuk meraih kesenangan dunia, meskipun itu harus merampas hak orang lain. Mereka lupa hakikat sebenarnya hidup di dunia ini. Merka lupa bahwa masih ada tempat yang jauh lebih kekal daripada dunia ini. Akal dan kepandaian mereka hanya digunakan untuk mencari kesenangan duniawi semata.

Orang-orang yang hanya mementingkan dunia ini terbagi dalam beberaa golongan. Golongan yang satu tidak lah lebih baik dibandingkan dengan golongan lainnya, karena masing-masing golongan ini hanya mementingkan nafsu duniawi, tanpa menyadari akan pentingnya bekal untuk di akhirat kelak. Golongan tersebut adalah:

1.   Golongan yang didominasi oleh kebodohan dan kelalaian, sehingga mata mereka tidak terbuka untuk merenungkan akibat dari perbuatan mereka.

Hal ini terbukti dengan perkataan mereka sendiri, “Tujuan utama kita dalam kehidupan yang hanya sebentar ini adalah berusaha keras untuk mendapatkan makanan. Setelah didapati kita makan hingga mendapat kekuatan untuk bekerja. Setelah mampu bekerja berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan makanan.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa tujuan hidup mereka adalah makan agar bisa bekerja kemudian mereka bekerja agar dapat makan. Ini adalah aliran orang yang tidak punya kenikmatan dan tidak punya pijakan agama. Mereka letih disiang hari untuk makan dimalam hari dan makan dimalam hari untuk bersusah payah disiang hari. Orang seperti ini bagaikan unta yang berjalan dipadang pasir yang mencari air dan rumput-rumputan agar dapat meneruskan perjalanannya hingga akhirnya mati ditengah padang pasir dalam keadaan lapar.

2.   Golongan yang mengira bahwa tujuan utama manusia bukanlah bersusah payah untuk bekerja.

Kebahagiaan itu terletak pada pelampiasan syahwat dunia yaitu syahwat perut dan kemaluan. Mereka menghabiskan waktu untuk mengejar wanita dan mengumpulkan berbagai makanan yang lezat. Mereka makan seperti binatang makan, mererka berhubungan badan seperti binatang berhubungan badan, dan mereka mengira apabila telah mendapatkan hal tersebut (makan dan berhubungan badan) berarti telah mencapai puncak kebahagiaan, hingga akhirnya mereka melupakan Allah dan hari akhirat.

3.   Golongan yang mengira bahwa kebahagiaan terletak pada banyaknya harta dan simpanan kekayaan, sehingga mereka bersusah payah mengumpulkannya siang dan malam.

Mereka melakukan perjalanan sepanjang siang dan malam hingga kelelahan, mondar-mandir melakukan berbagai pekerjaan berat hingga kesampaian, berusaha dan mengumpulkan kekayaan hingga mereka sendiri tidak memakannya kecuali sekedarnya saja. Hal itu karena mereka kikir dan takut hartanya berkurang. Mereka hanya menikmati dan mengumpulkan harta dan melihat hartanya yang berlimpah, walaupun mereka tidak sempat menikmatinya. Ketika mereka meninggal dunia, hartanya tetap tertimbun dibawah tanah (atau bank-pen) atau ditemukan oleh orang lain (atau jadi rebutan ahli waris-pen) yang memakannya dengan penuh syahwat dan kelezatan dan ia hanya mendapatkan keletihan. Lalu orang-orang yang sepertinya hanya menyaksikan dan memberikan belas kasihan tanpa dapat mengambil pelajaran dari kematian kawannya.

4.   Golongan yang mengira bahwa kebahagiaan terletak pada nama baik, pujian dan penghormatan.

Mereka rela mengurangi makanan dan minuman hanya untuk dapat membeli pakaian yang bagus dan kendaraan yang mewah. Mereka menghiasi pintu-pintu rumah dan sudut-sudut ruangan yang menjadi perhatian pandangan manusia agar dikatakan sebagai orang kaya. Memiliki harta banyak. Mereka mengira bahwa hal itu merupakan kebahagiaan. Perhatian utama mereka siang-malam adalah mendapatkan perhatian manusia.

5.   Golongan yang mengira bahwa kebahagiaan terletak pada kedudukan dan kehormatan dikalangan manusia atau ketundukan manusia dan penghargaan mereka terhadap dirinya.

Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan simpati dari manusia. Mereka mengira dengan menjadi pemimpin akan membawa dirinya dihormati dan dipatuhi. Saat itulah puncak kebahagiaan yang dirasakan. Ini merupakan tipu daya syahwat yang sangat besar atas orang-orang yang lalai kepada Allah. Mereka menyibukkan diri agar orang lain tunduk kepadanya dan bukan berusaha agar ia tunduk kepada Allah dan taat beribadah kepada-Nya.

Diakui atau tidak, disadari atau tidak, manusia yang hanya mementingkan nafsu duniawi masuk dalam salah satu golongan ini. Hal ini semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari kita. Lihatlah, betapa banyak orang-orang yang berebut untuk menduduki posisi tertentu , padahal kemampuannya belum tentu memadai untuk memegang posisi tersebut. Amanat yang diberikan disalah gunakan untuk menumpuk kekayaan pribadi, sehingga membuatnya lupa, bahwa mengemban amanat akan dimintai pertanggungjawaban, entah itu di dunia maupun di akhirat kelak.

Karena itu, marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk terhindar dari golongan orang-orang yang mencintai dunia, sehingga di akhirat kelak kita akan menemukan kebahagiaan yang hakiki, insya Allah………….

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: