Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Islam dan Demokrasi

Posted by anurachman pada April 29, 2009

Demokrasi. Siapa yang tidak tahu, atau setidaknya tidak pernah mendengar, tentang demokrasi? Semua orang pasti mengetahui tentang apa itu demokrasi. Demokrasi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hampir semua Negara di dunia sudah menjadikan demokrasi sebagai sistim pemerintahannya.

Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, “Demos” yang berarti rakyat/masyarakat, dan “Crato” yang berarti pemerintah. Berdasarkan terminology ini, demokrasi mengandng makna pemerintahan mutlak ada di tangan rakyat, atau yang kita kenal dengan sebutan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Pemerintah yang memeimpin sebuah Negara demokrasi dipilih oleh rakyat, melalui suara terbanyak.

Hukum-hukum yang berlaku di Negara dengan sistim demokrasi adalah hukum-hukum manusia. Hukum ini dibuat oleh perwakilan rakyat, dan dijadikan sebuah hukum yang mengikat, dalam bentuk undang-undang. Semua orangharus mematuhi undang-undang (hukum) buatan manusia ini. Siapa saja yang melanggar akan dikenai sanksi.

Pencetus sistim demokrasi adalah kaum kufar. Tujuan dari pencetusan sistim ini adalah untuk “menciptakan” persamaan hak bagi semua warganya. Namun dalam perjalanannya, sistim ini justru memicu munculnya berbagai faham yang menandinginya. Diantara faham tersebut diantaranya adalah fasisme dan komunisme, yang berseberangan dengan demokrasi itu sendiri. Setelah kedua faham tersebut musnah, demokrasi menjadi “jawara” sistim pemerintahan yang banyak digunakan oleh Negara-negara di dunia.

Lantas, bagaimanakah pandangan islam tentang demokrasi? Apakah sistim demokrasi ini sesuai dengan ajaran islam?

Pemikiran demokrasi, yang berarti rakyat memiliki kekuasaan mutlak , yang tercermin dari definisi dari demokrasi itu sendiri sudah tdak sesuai dengan ajaran islam. Terlebih lagi rakyat (dalam hal ini penguasa) dapat membuat hukum sendiri, yang belum tentu sejalan dengan hukum-hukum Allah SWT, terlebih karena sistim pemungutan suara yang digunakan.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran:

إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ

Artinya : Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. [QS Al-An’am : 57]

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir. [QS Al-Maidah : 44]

أَمۡ لَهُمۡ شُرَڪَـٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ

Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak dizinkan Allah ? [QS As-Syura : 21]

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَرَجً۬ا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمً۬ا

Artinya: Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakekatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS An-Nisa :65)

Dari beberapa nukilan ayat-ayat Al Quran tersebut, jelas tersirat bahwa yang berhak untuk menetapkan hukum bagi umat manusia hanyalah Allah SWT. Lantas bagaimana hukumnya mengikuti hukum-hukum yang dihasilkan dari sistim demokrasi? Allah SWT berfirman:

فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّـٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا‌ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya : (Oleh karena itu) barangsiapa yang mengingkari thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul (tali) yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. [QS Al-Baqarah : 256]

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبً۬ا مِّنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡجِبۡتِ وَٱلطَّـٰغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ هَـٰٓؤُلَآءِ أَهۡدَىٰ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ سَبِيلاً

Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab ? Mereka percaya kepada jibt dan thagut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. [QS An-Nisa: 51]

Sebagian kalangan menganggap bahwa demokrasi merupakan salah satu bagian dari ajaran islam. Dasar dari pemikiran tersebut adalah adanya sistim syura, yang dilaksanakan dalam pemerintahan islam. Namun pendapat ini tidak sepenuhnya dapat diterima. Sebab, sistem syura itu digunakan untuk suatu hal yang belum ada nash (dalilnya) dan merupakan hak Ahli Halli wal Aqdi, yang anggotanya para ulama yang wara’ (bersih dari segala pamrih). Dengan demikian sangat jelas, bahwa sistim syura berbeda dengan sistim demokrasi yang kita kenal sekarang ini.

Sebagai umat muslim, kita wajib untu kberpegang taeguh pada dalil-dalil yang ada , baik itu dari Al Quran maupun sunnah Nabi saw. Banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam kita temui dalam sistim demokrasi. Meskipun demikian demokrasi tidak sesuai dengan ajaran islam, namun kita tidak dilarang untuk berpolitik. Tentunya politik yang dapat kita “masuki” adalah sistim politik yang sesuai dengan ajaran islam.

Wallahu a’lam bish shawab

Dimuat pula di www.syahadat.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: