Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Antara Sholat dan Prestasi

Posted by anurachman pada Juni 30, 2009

Sholat adalah salah satu bentuk ibadah yang paling vital dan utama setelah seseorang mengikrarkan syahadat atau berada di dalam Islam. Sholat menjadi tumpuan bagi seluruh aktivitas ibadah umat muslim. Sholat juga memegang kendali yang sangat kuat terhadap seluruh aspek kehidupan seorang muslim. Dan percaya atau tidak percaya, ternyata sholat pun memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi seorang muslim.

Sebelumnya, perlu kami sampaikan bahwa prestasi yang dimaksud dalam Islam bukanlah sebatas prestasi akademis yang ditunjukkan oleh nilai atau nominal tertulis saja. Prestasi di dalam Islam adalah kualitas kehidupan yang dijalani oleh seseorang, yang mencakup cara hidup dan hasil dari aktivitas kehidupannya tersebut. Namun, prestasi tersebut pun kemudian juga dapat memompa nilai akademis dalam bentuk nominal tertulis, maupun nilai-nilai kepribadian yang tidak tertulis, misalnya budi pekerti dan akhlak orang tersebut.

Coba kita renungkan sejenak firman Allah swt berikut:

“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)

Lihatlah betapa sholat memiliki peranan penting dalam aktivitas kehidupan sehari-hari seorang muslim. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sholat merupakan satu-satunya cara yang efektif untuk membawa seseorang atau suatu umat menuju kepada kemulian, perbaikan, segala sesuatu yang bernilai baik. Maka di sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa sesungguhnya sholat itu merupakan salah satu cara untuk meningkatkan prestasi dalam kehidupan seorang muslim.

Setelah kita peroleh kesimpulan di atas, mungkin akan ada pertanyaan menyusul  mengenai “benarkah sholat dapat meningkatkan prestasi seseorang?”, “mengapa sholat dapat meningkatkan prestasi seseorang?”, dan “bagaimana sholat dapat meningkatkan prestasi seseorang?”.

Di sini, kami akan mencoba untuk mengupas dan menjawab ketiga pertanyaan di atas secara langsung, dalam satu rangkaian jawaban, tidak terpisah-pisah. Karena, pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan satu kesatuan yang saling berkait.

Insya Allah “BENAR”, bahwa ibadah sholat dapat meningkatkan prestasi seorang muslim yang mengistiqomahkannya dengan ikhlas, baik dan benar. “Mengapa dan bagaimana?”, karena di dalam sholat terdapat beberapa hal yang bersifat mendidik. Unsur-unsur mendidik yang terdapat di dalam sholat tersebut akan mendarah daging di dalam jiwa dan raga orang yang mengistiqomahkannya dengan ikhlas, baik dan benar. Kemudian, nilai-nilai yang telah mendarah daging tersebut akan memacunya kearah yang selalu positif dan lebih baik. Berikut ini adalah beberapa unsur mendidik  yang terdapat di dalam ibadah sholat.


Senantiasa mengajarkan kebaikan

“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)

Melalui ayat di atas, dapat kita pahami dengan jelas bahwa Allah swt telah meyampaikan dengan tegas bahwa sholat dapat mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Mengapa demikian? Karena,seseorang yang telah mampu mendirikan dan mengistiqomahkan sholat dengan baik dan benar, dengan khusyuk, maka ia akan selalu mengingat Allah swt. Ia akan selalu merasa bersama Allah swt. Kapanpun, di manapun, dan dalam aktivitas apapun,  ia merasa bahwa Allah swt senantiasa bersamanya, melihatnya, mendengarnya, dan mengawasinya. Kalau sudah demikian adanya, maka siapa yang akan berani untuk melakukan maksiat, perbuatan-perbuatan keji dan mungkar? Sebaliknya, ia akan senantiasa terdorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik atau amalan-amalan sholeh untuk mendapatkan rahmat dan ridho-Nya.


Menanamkan kedisiplinan

“… Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa : 103)

Tidak seorang muslim pun dapat mengerjakan sholat dengan semaunya sendiri, yang kapan ia mau maka saat itulah ia mengerjakan sholat. Sholat merupakan salah satu ibadah utama umat muslim yang memang sudah ditetapkan waktunya oleh Allah swt. Tidak ada yang dapat ataupun berhak untuk merubahnya.

Rasulullah SAW bersabda: “sholatlah seperti aku sholat.” (Al Hadits)

Hadits di atas juga menegaskan kepada umat muslim bahwa sholat merupakan satu ibadah yang terikat dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan Rasulullah saw. Aturan-aturan tersebut diantaranya adalah adanya rukun dan syarat sahnya sholat, hal-hal yang membatalkan sholat (perkara yang diharamkan untuk dilakukan ketika sedang sholat), hal-hal yang diwajibkan, dianjurkan dan disunnahkan untuk dikerjakan ketika sholat, dan lain-lain.

Dengan adanya aturan-aturan tersebut, maka diperlukan niat yang kuat dan kesungguhan hati yang mantap untuk mengistiqomahkan ibadah sholat dengan baik dan benar, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Tentunya, bagi mereka yang telah berhasil mematuhi segala aturan-aturan ketat yang terdapat di dalam ibadah sholat ini, kemudian mampu mengistiqomahkannya dengan baik dan benar, tentu saja akan tertanam kedisiplinan yang mantap dalam dirinya untuk senantiasa bertindak sesuai dengan aturan yang ada. Sikap disiplin akan mendarah daging dalam kehidupannya dan terealisasi dalam setiap aktivitasnya.


Menanamkan kebersihan

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al Maidah : 6)

Melalui firman-Nya, Allah swt telah memerintahkan hambanya yang beriman untuk selalu bersuci terlebih dahulu ketika hendak mengerjakan sholat. Tentu saja perintah tersebut merupakan satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim sebelum ia mengerjakan sholat.

Sholat yang tidak didahului dengan bersuci (berwudhu atau bertayamum) tidak akan diterima oleh Allah swt. Sholat yang demikian tidaklah sah dan justru akan menimbulkan satu dosa bagi pelakunya.

“Allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kamu apabila telah berhadats hingga dia berwudhu.” (HR. Bukhari)

Mengenai perintah bersuci ini, Rasulullah saw juga telah bersabda bahwa bersuci adalah anak kunci dari ibadah sholat. Artinya adalah, bahwa pembukan dari sholat adalah dengan bersuci, untuk mengerjakan sholat harus didahului dengan bersuci terlebih dahulu.

“Anak kunci kepada shalat itu adalah bersuci” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Pada perintah-perintah bersuci di atas tentunya telah jelas bahwa sholat hanya boleh dikerjakan setelah seseorang bersuci, yaitu berwudhu atau bertayamum (jika berhadats kecil). Ini mengisyaratkan bahwa tidak boleh melakukan  sholat kecuali bagi orang-orang muslim yang berada dalam keadaan suci. Bersih dari segala bentuk kotoran dan hadas. Dari sini jelaslah bahwa Sholat mengajarkan umat muslim untuk senantiasa menjaga dan memelihara kebersihan, yang tentunya harus diaplikasikan dalam setiap aspek kehidupan, baik jiwa, raga, pakaian, makanan maupun tempat.


Melatih konsentrasi

Konsentrasi, terpusat, fokus, atau khusyuk, merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi setiap aktivitas. Istilah itulah yang senantiasa ditekankan di dalam pelaksanaan sholat, yaitu khusyuk mengingat Allah swt semata, khusyuk disetiap bacaannya, dan khusyuk disetiap gerakannya. Ketika seseorang tengah mengerjakan sholat, maka ia dituntut untuk mengerahkan segenap jiwa, raga, pikiran, dan hatinya untuk bersatu dalam satu titik, yaitu mengingat Allah swt. Tidak diperbolehkan lagi melakukan kontak dengan hal-hal di luar unsur-unsur yang terdapat atau diperbolehkan di dalam sholat. Mengenai konsentrasi atau khusyuk di dalam sholat ini, Allah swt telah berfirman yang artinya:

“Beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dan yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna”. (QS. Al Mukminun: 1-3)

Selain itu, Rasulullah saw juga telah bersabda mengenai betapa pentingnya unsur kekhusyuk-an di dalam sholat.

”Sholatlah seperti halnya sholat orang yang akan meninggal, yaitu seakan-akan engkau melihat Alloh. Jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Thabrani, Ibnu Majah & Ahmad).

Tekanan untuk melatih kekhusyuk-an ini dilakukan oleh umat muslim setiap hari minimal sebanyak lima waktu, sesuai dengan lima waktu sholat fardhu. Dan latihan ini akan diperkuat lagi dengan melakukan sholat-sholat sunnah yang begitu banyak macamnya. Pelatihan di dalam sholat yang dilakukan setiap hari ini, bahkan berkali-kali dalam sehari tentunya akan membentuk pribadi yang memiliki tingkat konsentrasi yang baik dan semakin baik dalam kehidupannya. Dan hal ini tentu akan mejadi pendukung bagi seorang muslim dalam segala aktivitas kehidupan yang dijalaninya.


Membiasakan ucapan yang baik

Shalat adalah ibadah yang secara langsung berhubungan dengan Allah swt. Di dalam sholat tersebut terdapat bacaan-bacaan yang semuanya bernilai kebaikan. Kalimat-kalimat yang mulia berupa pujian, doa, dan pernyataan penghambaan.

Dengan selalu memuji kepada Allah, insya Allah akan menimbulkan sikap rendah hati. Kalimat yang berupa doa-doa sebagai cermin bahwa manusia adalah makhluk yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah swt semata. Tertanamnya bacaan-bacaan yang bernilai kebaikan dan kemuilaan tersebut di dalam hati seseorang, akan menjadikannya sebagai sosok yang selalu berhati-hati dalam berucap dan selalu menghindarkan diri dari sifat sombong, ujub, dan riya.


Mengajarkan kebersamaan dan persatuan


“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku”
(QS. Al-Baqarah: 43).

“Suatu ketika datanglah seorang laki-laki buta kepada Rasulullah saw dengan tujuan untuk meminta keringanan dalam sholat berjamaah karena kebutaan yang ada pada dirinya. Lelaki yang buta tersebut berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang yang buta, tidak ada seorang penuntun yang dapat menuntunku ke Masjid, maka bolehkah aku tidak sholat dengan berjamaah dan cukup bagiku sholat di rumah saja?” Seketika Rasulullah saw memberi keringanan kepada lelaki tersebut sebagaimana yang ia pinta, namun ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah saw memanggilnya kembali  dan bertanya kepadanya, “Apakah kamu mendengar adzan panggilan sholat?” Orang buta itu menjawab, “Ya”. Maka Rasulullah saw pun bersabda, “Kalau begitu, sambutlah (berangkatlah sholat berjamaah)” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggamanNya, sungguh aku pernah akan menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan untuk shalat, lalu adzan pun dikumandangkan. setelah itu, aku menyuruh orang untuk menjadi imam shalat berjamaah. Lalu aku pergi ke rumah orang-orang yang tidak memenuhi panggilan shalat, dan aku bakar rumah mereka saat mereka berada di dalamnya. “ (HR. Bukhori Muslim).

“Karena itu shalatlah dengan berjamaah, karena srigala itu hanya menerkam kambing yang jauh terpencil dari kawan-kawannya (jamaahnya)” (HR: Abu Daud).

Di atas merupakan dasar-dasar yang menekankan pentingnya melakukan sholat berjamaah. Dengan demikian, jelaslah bahwa sholat pun mengajarkan kebersamaan, silaturahmi, dan memperkuat persatuan dan kesatuan antar sesama umat muslim.

Sholat berjamaah mengajarkan kepada umat muslim untuk memperkuat tali persaudaraan dan persatuan antar sesama umat muslim, tanpa memandang suku, budaya, kebangsaan, bahasa, warna kulit, latar belakang pendidikan, dan lain-lain. Sholat berjamah akan menyatukan semua perbedaan tersebut. Suku apapun, apapun warna kulitnya, apapun kebangsaannya, apapun bahasa daerahnya, apapun latar belakang pendidikannya, berhak untuk menjadi imam dalam sholat berjamaah, asalkan ia telah mampu memenuhi syarat-syarat sebagai imam (misalnya: hafal banyak surat di dalam Al Quran dengan bacaan yang tartil, mengerti banyak tentang sunnah, beragama Islam).  Dan setiap mereka yang menjadi makmum wajib mengikuti gerakan imam dan tidak mendahuluinya, tidak peduli apakah makmum tersebut seorang yang kaya raya, seorang jendral, atau presiden sekalipun.

Di dalam sholat berjamaah juga sangat ditekankan untuk meluruskan dan merapatkan shaf/barisan sholat. Ini merupakan satu isyarat yang senantiasa mengajarkan umat muslim untuk selalu memperkuat ukhuwah islamiyah-nya agar jangan sampai tercerai-berai.

Di sini dapat kita pahami bahwa sholat merupakan serangkaian ibadah utama bagi umat muslim yang di dalamnya sangat menjunjung tinggi adanya suatu ikatan persaudaraan dan persatuan yang kuat. Dengan demikian, seorang muslim yang senantiasa mengistiqomahkan sholat berjamaah dengan baik dan benar, niscaya akan tertanam di dalam dirinya jiwa persatuan yang sangat kuat, semangat persaudaraan yang tak pernah pupus, dan terus menguatnya rasa kebersamaan yang begitu hangat.


Melatih kejujuran

“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)

Sekali lagi bahwa sholat merupakan salah satu rangkaian ibadah umat muslim yang berfungsi sebagai pencegah dari perbuatan keji dan mungkar, jika diistiqomahkan dengan baik dan benar, dan dilakukan dengan segenap jiwa dan raga secara menyeluruh dan ikhlas.

Sholat merupakan ibadah yang masing-masing jumlah rakaat-nya sudah ditetapkan, tidak ada yang boleh mengurangi ataupun menambahkannya. Dan ternyata, melalui jumlah rakaat tersebut kita dapat memetik satu hikmah yang sangat berharga, yaitu kejujuran. Sholat yang rakaatnya telah ditetapkan dan sudah tidak dapat diutak-atik tersebut ternyata secara tidak  langsung telah mengajarkan seorang muslim untuk senantiasa berlaku jujur, kapanpun dan dimanapun. Tidak ada seorang muslim yang mengerjakan sholat ‘ashar sebanyak dua atau tiga rakaat karena terburu-buru atau karena ia mengerjakannya ditempat yang tertutup. Dan tidak dibenarkan pula untuk menambahkan jumlah rakaat tertentu semau kita sendiri dengan tujuan agar mendapatkan pahala yang lebih banyak. Kapanpun dan dimanapun, pada waktu malam di dalam gua yang terasing sekalipun, mengerjakan sholat ‘ashar adalah empat rakaat, tidak lebih dan tidak kurang.

Meskipun sholat itu dikerjakan secara tersembunyi (tidak dilihat oleh orang lain), tetap saja rakaat yang boleh dikerjakan adalah yang telah ditetapkan. Tidak dibenarkan untuk menambahkan maupun mengkorupsikan rakaat tersebut.


Menghilangkan sifat malas

Sholat fardhu yang dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari, sholat shubuh yang dilakukan pada bagi buta, sholat tahajud yang dilakukan di sepertiga malam manakala hampir setiap makhluk Allah swt tertidur, keutamaan sholat berjamaah di masjid, semua itu mengandung unsur-unsur yang mendidik bagi  seorang muslim. Untuk mengerjakan sholat-sholat tersebut harus melawan satu jenis penyakit yang banyak hinggap dan bersemayam di dalam dada manusia, yaitu rasa malas.

Mustahil bahwa di dalam diri seseorang tidak terdapat sifat malas. Dan hanya orang-orang yang mampu melawan sifat malas itulah, yang akan berhasil terbangun di sepertiga malam atau di pagi buta untuk sholat dan menemui Rabb-nya, Allah swt. Hanya orang-oran yang mampu mengalahkan penyakit malaslah yang mampu mengisitiqomahkan sholat lima waktu dengan baik dan benar. Hanya orang-orang yang berhasil melawan rasa malasnyalah yang istiqomah untuk melangkahkan kakinya ke masjid untuk melaksanakan sholat fardhu berjamaah.

Di sini dapat di ambil kesimpulan bahwa sholat dapat meningkatkan prestasi atau kualitas hidup seorang muslim, minimal mencetak umat muslim dengan kepribadian sebagai berikut:

  • Senantiasa mengajarkan kebaikan
  • Disiplin
  • Bersih
  • Penuh konsentrasi
  • Selalu bertutur kata yang baik
  • Selalu menjaga ukhuwah Islamiyah dan insaniyah
  • Jujur
  • Tidak malas (rajin)

Subhanallah! Betapa mulianya nilai dari ibadah sholat yang merupakan ibadah yang paling utama bagi umat Islam. Bukankah rangkaian kepribadian yang luhur di atas merupakan satu prestasi yang sangat gemilang di dalam kehidupan? Rasa syukur yang tak terhingga marilah sama-sama kita panjatkan  kepada Allah swt yang telah menempatkan kita semua di dalam koridor Islam.

Demikianlah artikel yang cukup sederhana ini, semoga dapat memberikan barokah dan maslahat bagi kita semua. Amin.

Wallahua’lam

www.syahadat.com

About these ads

4 Tanggapan to “Antara Sholat dan Prestasi”

  1. [...] Antara Sholat dan Prestasi Posted on 24 Februari 2010 by Abdul Rohim Antara Sholat dan Prestasi [...]

  2. [...] Sholat dan Prestasi Posted on 4 April 2010 by Abdul Rohim Antara Sholat dan Prestasi [...]

  3. umy shofi berkata

    ASSALAMU’ALAIKUM

    Afwan, ana ijin share
    jazakalluhu khayron katsir

  4. Surya Wiranto, S.H., M.H. berkata

    Bagus sekali tausiahnya ttg Islam. Sy & kel sangat senang membacanya. Tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: