Aku dan Islam

Perjalanan Mencari Kebenaran Sejati

Tafsir Al Quran: Surat Al Fatihah

Posted by anurachman pada Mei 8, 2009

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ

ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ

صِرَٲطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

Surat Al Fatihah adalah surat pembuka dalam Al Quran. karena itu, surat Al Fatihah sering dinamakan pula Ummul Quran. kandungan yang di,miliki oleh surat Al Fatihah pun sedemikian agung. Seluruh isi dari Al Quran tercermin dalam surat ini. Bisa dikatakan bahwa surat Al Fatihah adalah “intisari” dari kandungan Al Quran.

Pada sura Al Fatihah terkandung tiga macam tauhid. Ketiga macam tauhid tersebut adalah tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Ketiga macam tauhid ini merupakan inti dari ajaran islam, yang sebaiknya dipahami oleh semua umat muslim di manapun ia berada.

Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah SWT. Meyakini ke-esa-an Allah SWT merupakan salah satu hal yang wajib dimiliki oleh umat  islam. Salah satu bentuk peng-esa-an Allah SWT adalah dengan meyakini bahwa Allah SWT ahad dalam perbuatan-perbuatan-Nya, seperti: menciptakan, memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan, dan perbuatan-perbuatan Allah ta’ala yang lainnya. Maknanya Allah itu esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal mencipta, menghidupkan dan mematikan makhluk.

Sedangkan tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan perbuatan-perbuatan hamba seperti: dalam hal berdoa, merasa takut, berharap, bertawakal, meminta pertolongan (isti’anah), memohon keselamatan dari cekaman bahaya (istighatsah), menyembelih binatang, dan perbuatan-perbuatan hamba yang lainnya. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap manusia untuk menjadikan segala ibadah itu ikhlas semata-mata tertuju kepada Allah ‘azza wa jalla. Tiada pencipta kecuali Allah, tiada yang menghidupkan kecuali Allah, tiada yang mematikan kecuali Allah, maka tiada yang berhak disembah kecuali Allah.

Tauhid asma’ wa shifat adalah menetapkan nama dan sifat yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi diri-Nya tanpa disertai dengan tahrif (penyelewengan makna), ta’wil (penafsiran yang menyimpang), ta’thil (menolak makna atau teksnya), takyif (menegaskan bentuk tertentu dari sifat Allah), tasybih (menyerupakan secara parsial) ataupun tamtsil (menyerupakan secara total).
Tauhid uluhiyah sudah ditunjukkan keberadaannya dengan firman-Nya, “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah). Hal itu dikarenakan penyandaran pujian oleh para hamba terhadap Rabb mereka merupakan sebuah bentuk ibadah dan sanjungan kepada-Nya, dan itu merupakan bagian dari perbuatan mereka.
Adapun tauhid rububiyah, ia juga sudah terkandung di dalam firman-Nya ta’ala, “Rabbil ‘alamin.” (Rabb seru sekalian alam). Hal itu disebabkan Allah subhanahu wa ta’ala adalah rabb bagi segala sesuatu, pencipta sekaligus penguasanya. Hal itu sebagaimana difirmankan oleh Allah ‘azza wa jalla, “Hai umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian serta orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit menjadi atap, dan Dia lah yang menurunkan air hujan dari langit kemudian berkat air itu Allah menumbuhkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian, maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 21-22)

Sedangkan tauhid asma’ wa shifat, maka sesungguhnya ayat pertama itu pun telah menyebutkan dua buah nama Allah. Kedua nama itu adalah lafzhul jalalah ‘Allah’ dan Rabb sebagaimana di dalam firman-Nya “Rabbil ‘alamin”. Pada ayat ini kata ‘rabb’ disebutkan dalam bentuk mudhaf (dipadukan dengan kata lain, pen). Sedangkan pada ayat lainnya yang tercantum dalam surat Yasin ia disebutkan secara bersendirian tanpa perpaduan, yaitu dalam firman-Nya, “Salamun qaulan min rabbir rahim” (Semoga keselamatan tercurah dari rabb yang maha penyayang) (QS. Yasin: 58)

Adapun ‘alamin’ adalah segala makhluk selain Allah. Allah subhanahu wa ta’ala dengan dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, maka Dia lah Sang Pencipta. Sedangkan semua selain diri-Nya adalah makhluk.

‘Ar Rahman Ar Rahim’ (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) merupakan dua buah nama Allah yang menunjukkan salah satu sifat Allah yaitu rahmah (kasih sayang). Ar Rahman termasuk kategori nama Allah yang hanya boleh dipakai untuk menyebut Allah. Sedangkan nama Ar Rahim telah disebutkan di dalam al-Qur’an pemakaiannya untuk menyebut selain-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang sifat Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian, terasa berat olehnya apa yang menyulitkan kalian, dan dia sangat bersemangat untuk memberikan kebaikan bagi kalian, dan dia sangat lembut dan menyayangi orang-orang yang beriman.” (QS. At Taubah: 128)

‘Maliki yaumid din’ menunjukkan kepada tauhid rububiyah. Allah subhanahu wa ta’ala adalah rabb segala sesuatu dan penguasanya. Seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang berada di antara keduanya adalah milik-Nya. Dia lah Raja yang menguasai dunia dan akhirat. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Milik Allah kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalamnya, dan Dia Maha menguasai segala sesuatu.” (QS. Al Ma’idah: 120). Allah juga berfirman, “Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Mulk: 1). Allah berfirman, “Katakanlah; Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia yang melindungi dan tiada yang dapat terlindungi dari siksa-Nya, jika kalian benar-benar mengetahui? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Katakanlah; Lantas dari sisi manakah kalian tertipu.” (QS. Al Mu’minun: 88-89)

Yaumid din adalah hari terjadinya pembalasan dan penghitungan amal. Di dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah adalah penguasa pada hari pembalasan -padahal Dia adalah penguasa dunia dan akhirat- dikarenakan pada hari itu semua orang pasti akan tunduk kepada Rabbul ‘alamin. Berbeda dengan situasi yang terjadi di dunia, ketika di dunia masih ada orang yang bisa melampaui batas dan menyombongkan dirinya, bahkan ada pula yang berani mengatakan, “Aku adalah rabb kalian yang paling tinggi.” Dan dia pun lancang mengatakan, “Wahai rakyatku semua, tidaklah aku mengetahui adanya sesembahan bagi kalian selain diri-Ku.”

‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ (Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan). Ini menunjukkan tauhid uluhiyah. Penyebutan objek yang didahulukan sebelum dua buah kata kerja tersebut menunjukkan pembatasan. Ia menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah. Demikian pula meminta pertolongan dalam urusan yang hanya dikuasai oleh Allah juga harus diminta hanya kepada Allah. Kalimat yang pertama menunjukkan bahwasanya seorang muslim harus melaksanakan ibadahnya dengan ikhlas untuk mengharap wajah Allah yang disertai kesesuaian amal dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan kalimat yang kedua menunjukkan bahwa hendaknya seorang muslim tidak meminta pertolongan dalam mengatasi segala urusan agama dan dunianya kecuali kepada Allah ‘azza wa jalla.

‘Ihdinash shirathal mustaqim’ (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Ini menunjukkan tauhid uluhiyah, sebab ia merupakan doa. Dan doa termasuk jenis ibadah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapapun.” (QS. Al Jin: 18). Doa ini mengandung seagung-agung tuntutan seorang hamba yaitu mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus. Dengan meniti jalan itulah seseorang akan keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya serta akan menuai keberhasilan dunia dan akhirat. Kebutuhan hamba terhadap petunjuk ini jauh lebih besar daripada kebutuhan dirinya terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanyalah bekal untuk menjalani kehidupannya yang fana. Sedangkan petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan bekal kehidupannya yang kekal dan abadi. Doa ini juga mengandung permintaan untuk diberikan keteguhan di atas petunjuk yang telah diraih dan juga mengandung permintaan untuk mendapatkan tambahan petunjuk. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan orang-orang yang tetap berjalan di atas petunjuk, maka Allah pun akan menambahkan kepada mereka petunjuk dan Allah akan memberikan ketakwaan kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17). Allah juga berfirman tentang Ashabul Kahfi, “Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami pun menambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al Kahfi: 13). Allah juga berfirman, “Dan Allah akan menambahkan petunjuk kepada orang-orang yang tetap berjalan di atas petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِم

Artinya :
“Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” (Al Fatihah : 7)

Kita memohon kepada Allah agar kita diberi-Nya hidayah kepada jalan yang benar, yakni satu jalan yang apabila kita jalani, niscaya kita mendapat kemuliaan dan ketinggian pada dunia dan kjalan yang menyampaikan kita kepada surga behagia dan utama di akherat.

Maka untuk menyatakan jalan manakah yang dimaksud itu, di ayat ini dapat ditegaskan dengan: “Jalan orang yang telah dianugerahi Allah dengan nikmat-Nya.” Adapun nikmat itu ada bermacam-macam yaitu pemberian Allah yang dianugerahkan Allah kepada kita baik yang tidak diusahakan atau yang diusahakan. Tetapi nikmat yang dikehendaki di sisni ialah nikmat akal dan hikmat, karena itulah nikmat yang setinggi-tingginya sebagaimana kata syeikh Thanthowi di dlam tafsirnya:

Siapakah yang dikehendaki dengan “yang telah mendapat nikmat itu?” Yaitu: Nabi-nabi, siddiqin (orang-orang yang benar), syuhada’ dan orang-orang yang shalih.

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضّالِّيْنَ

Artinya :
“Jalan orang-orang yang tidak dimurkai atas mereka dan tidak jalan orang-orang yang sesat.” (Al Fatihah :7)

Yang didimaksud orang yang durhaka itu orang yang keluar dari yang hak setelah lebih dahulu mngetahuinya, atau orang yang telah sampai kepada mereka hukum syareat, tetapi terus dibuangkannya dan tidak diterimanya meskipun cukup keterangan tetap berpaling, hanya menunjukkan dengan yang telah dipusakainya dari kata-kata orang saja. Dan yang jahil ialah orang yang sengaja tidak mengetahui yang hak sekali-kali. Orang yang sesat itu ada bermacam-macam:

1. Orang yang tidak sampai kepada mereka seruan agama, ataupun sampai tetapi seruan itu tidak sampai membawa mereka kepada berpikir atau memfikirkannya. Mereka ini tidak mendapat bagian hidayat selain hidayat panca indera dan akal, tetapi tidak dapat hidayah agama. Betul mereka tidak bersalah dalam bagian penghidupan di dunia, tetapi mereka tetap merugi dalam keselamatan ruh dan bagian hidup di akhirat, karena pekerjaan agama yang yang sah ialah yang sanggup memimpin si pemeluknya ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat.
Adapun di akherat Allah akan memaafkan mereka sebab Allah berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذَّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلاً

Artinya :
“Dan tidak kami menyiksa sehingga kami mengutus seorang rasul.”(Al Isra’ : 15)

2. Orang yang sampai kepadanya seruan, dan sampai membawanya berfikir, terus iapun mempergunakan Himmahnya ( kemauan keras) dengan bersungguh-sungguh memikirkannya tetapi ia tidak dapat tauhid hingga habis umurnya ia tetap mencari-cari kebenaran juga. Orang yang seumpama ini menurut kata setangah ulama Asy’ari : “masih diharapkan rahmat Allah kepadanya,” tetapi menurut jumhur : orang ini tetap disiksa juga dengan siksa yang lebih ringan daripada orang yang ingkar.

3. Orang yang sampai kepadanya risalat dan terus dibenarkannya dengan tidak menilik kepada kepada dalilnya dan tidak berdiri di atas usul-usulnya, kemudian mereka mengikuti saja menurut kemauan-kemauan hawa nafsunya untuk memahamkan yang diterangkan pokok-pokok aqoid itu. Mereka inilah yang paling banyak mengadakan bid’ah dalam agama. Dengan sebab yang demikian dan yang lain-lain lantas I’tikat mereka berpaling dari yang diterangkan Al-qur’an dan pegangan ulama-ulama yang shahih, sehingga terjadilah partai-partai yang sangat sesat lagi menyesatkan dalam agama, seperti : partai Rfaidhi, Ismaili dan pada masa yang akhir ini timbul pula partai Ahmadiyah Qadani dan lain-lain.

4. Orang-orang yang sesat dalam amalan dan memakai hukum-hukum dari apa yang telah diatur syareat. Seperti tersalah dalam memahamkan makna shalat dan lain-lainnya. Pendeknya mereka yang tersalah dalam furu’ agama dengan maksud meringan-ringankan atau yang dinamakan talfiq dalam agama, yakni mencari-cari mana yang seringan-ringannya dan yang seenteng-entengya.

sumber: muslim.or.id, mta-online.com, syahadat.com

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: